Sepakat untuk Kebaikan, Bukan untuk Kejahatan
Dalam Matius 18:19 tertulis,
“Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.”
Ayat ini menegaskan betapa kuatnya kuasa kesepakatan. Dalam sebuah rumah tangga, persahabatan, maupun komunitas, kesepakatan membawa kuasa besar yang bisa mendatangkan berkat. Namun, firman ini juga mengingatkan bahwa kesepakatan tidak selalu berarti kebaikan. Bila kesepakatan digunakan untuk tujuan yang salah—untuk dosa, kebohongan, atau kejahatan—maka hasilnya bukanlah berkat, melainkan kehancuran.
Kesepakatan yang Salah: Belajar dari Ananias dan Safira
Kisah Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5) adalah contoh nyata pasangan yang sepakat melakukan dosa. Mereka menjual sebidang tanah, namun menahan sebagian hasilnya dengan sepengetahuan bersama. Saat ditanya oleh para rasul, mereka sama-sama berbohong. Akibatnya, keduanya mati seketika karena mendustai Roh Kudus.
Kesalahan mereka bukan hanya pada tindakan menahan uang, tetapi karena mereka sepakat dalam kebohongan. Mereka bersekongkol untuk menipu, padahal mereka tahu itu salah. Firman Tuhan mengajarkan bahwa ketika seseorang tahu kebenaran namun memilih diam atau ikut menutupi kesalahan, ia menjadi bagian dari dosa itu sendiri.
Berapa banyak di antara kita yang tahu pasangan, teman, atau rekan kerja melakukan hal yang tidak benar, tapi kita memilih diam karena takut menyinggung, takut kehilangan kenyamanan, atau takut dianggap tidak setia? Padahal diam dalam kebenaran bisa berarti sepakat dalam dosa.
Pasangan yang Sepakat dalam Dosa: Raja Ahab dan Izebel
Contoh lain adalah Ahab dan Izebel dalam 1 Raja-Raja 21. Ahab menginginkan kebun anggur milik Nabot, tetapi ditolak karena tanah itu adalah warisan leluhur. Ahab pun kesal dan murung, sementara Izebel menggunakan tipu daya untuk mendapatkan kebun itu. Ia menulis surat palsu atas nama raja, menuduh Nabot menghujat Allah, dan memerintahkan agar dia dihukum mati dengan batu. Setelah Nabot mati, Ahab dengan gembira mengambil kebun itu.
Ahab tidak menegur istrinya, justru membiarkan kejahatan itu terjadi karena keinginannya terpenuhi. Inilah potret kesepakatan yang membawa kehancuran—bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi pelakunya sendiri.
Kesepakatan dalam dosa sering dimulai dari hal kecil: menutupi kebohongan, membiarkan korupsi kecil, menoleransi ketidakjujuran. Namun, dosa kecil yang disepakati akan tumbuh menjadi bencana besar.
Belajar dari Istri Pilatus: Kesepakatan untuk Kebenaran
Ada pula teladan positif—istri Pontius Pilatus. Saat Yesus diadili, ia mengirim pesan kepada suaminya:
“Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” (Matius 27:19)
Ia memperingatkan suaminya agar tidak ikut dalam keputusan yang salah. Walau akhirnya Pilatus tunduk pada tekanan massa, kita melihat bahwa ada kekuatan besar dari seseorang yang berani tidak sepakat dalam dosa, bahkan ketika ia tahu suaminya punya kekuasaan untuk memutuskan sesuatu.
Jangan Sepakat dalam Kejahatan
Firman Tuhan mengingatkan dalam Mikha 2:1,
“Celakalah mereka yang merancang kejahatan di tempat tidur mereka, dan melaksanakannya pada waktu fajar, karena hal itu ada dalam kuasa mereka.”
Ada orang yang memakai kuasa, jabatan, atau pengaruhnya bukan untuk menegakkan kebenaran, tetapi untuk memutarbalikkan keadilan. Tuhan benci hal itu.
Amsal 6:16–19 juga mencatat tujuh perkara yang dibenci Tuhan, salah satunya adalah “hati yang membuat rencana-rencana jahat.”
Kesepakatan dalam dosa seringkali tampak “aman” di awal, karena tidak langsung menimbulkan akibat. Tapi di mata Tuhan, setiap niat jahat adalah awal kehancuran.
Berani Menegur Karena Kasih
Dalam hubungan suami-istri, keluarga, maupun persahabatan, kita dipanggil bukan hanya untuk saling mendukung, tetapi juga saling menegur dengan kasih. Amsal 27:5 berkata,
“Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi.”
Menegur bukan berarti tidak mengasihi—justru itulah bentuk kasih yang sejati. Kasih yang diam terhadap dosa bukanlah kasih sejati, melainkan kompromi yang menjerumuskan.
Suami adalah imam dalam keluarga, pemimpin rohani yang harus membawa keluarganya hidup dalam kebenaran. Sementara istri adalah penolong yang meneguhkan dan mengingatkan. Ketika keduanya sepakat untuk hidup takut akan Tuhan, keluarga itu akan berdiri teguh meski badai datang. Tetapi jika keduanya sepakat untuk menipu, berbuat dosa, atau mencari jalan pintas demi keuntungan duniawi, kehancuran tidak akan lama menunggu.
Ujian Integritas: Antara Uang dan Kebenaran
Salah satu alasan banyak orang kompromi terhadap kejahatan adalah uang.
Banyak yang tahu pasangannya menerima suap, memalsukan data, atau menipu, tetapi memilih diam karena hasilnya menguntungkan. Namun, uang tidak bisa membeli keselamatan jiwa.
Lebih baik hidup sederhana dalam kebenaran daripada hidup mewah dalam dosa. Uang bisa hilang, tapi nama baik dan hati yang bersih jauh lebih berharga di mata Tuhan.
Yesaya 5:20 memperingatkan:
“Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang menukar gelap menjadi terang dan terang menjadi gelap.”
Di zaman sekarang, banyak orang menukar nilai kebenaran demi keuntungan pribadi. Tapi orang yang takut akan Tuhan tetap berpegang pada integritas, walaupun rugi. Ia tahu bahwa Tuhan akan memulihkan apa pun yang hilang karena ketaatan.
Sepakat dalam Doa, Bukan dalam Dosa
Kuasa kesepakatan sejati bukanlah ketika dua orang bersatu untuk menipu atau mencuri, tetapi ketika mereka bersatu memohon kepada Tuhan dengan hati yang murni.
Tuhan mendengarkan doa dari hati yang bersih dan tangan yang tidak ternoda. Ketika suami dan istri, teman, atau sahabat sepakat dalam doa untuk hal-hal yang benar—membangun, mengampuni, dan melayani—maka surga akan bergerak.
Kesepakatan dalam kasih membawa berkat. Kesepakatan dalam dosa membawa kutuk.
Pilihlah untuk sepakat dalam hal-hal yang kudus, agar hidupmu, keluargamu, dan masa depanmu tidak berakhir seperti Ananias dan Safira, tetapi dipenuhi damai sejahtera seperti keluarga yang hidup takut akan Tuhan.
-
Apakah aku pernah diam saat melihat ketidakbenaran, hanya karena tidak ingin ribut?
-
Apakah aku lebih memilih uang dan kenyamanan dibandingkan kebenaran?
-
Sudahkah aku menjadi penolong yang mengingatkan, bukan penonton yang membiarkan?
Kiranya hari ini kita memilih untuk sepakat dalam kebenaran, bukan dalam kejahatan.
Karena lebih baik kehilangan keuntungan dunia, daripada kehilangan hadirat Tuhan.
Komentar
Posting Komentar