Ketika Tuhan Tidak Memberi Penjelasan, Hanya Undangan “Ikutlah Aku”
Ada masa dalam hidup ketika segala sesuatu tampak tidak masuk akal. Doa yang kita panjatkan seolah tidak menembus langit. Harapan terasa hancur, dan hati kita dipenuhi pertanyaan “mengapa?”. Mengapa saya yang harus mengalami ini? Mengapa orang lain tampak diberkati sementara saya berada dalam penderitaan? Namun, dari kisah dalam Injil Yohanes pasal 21, kita diajak merenungkan sebuah kebenaran yang dalam—bahwa terkadang Tuhan tidak memberikan penjelasan, hanya undangan: “Ikutlah Aku.”
1. Ketika Tuhan Tidak Menjelaskan, Ia Tetap Mengundang
Kisah ini terjadi setelah kebangkitan Yesus. Dalam pertemuan dengan murid-murid-Nya di pantai, Yesus bertanya kepada Simon Petrus tiga kali: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Setelah Petrus menjawab “Ya, Tuhan,” Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Lalu Yesus bernubuat tentang akhir hidup Petrus—tentang penderitaan yang akan dia alami, tentang salib yang akan ia pikul.
Bayangkan perasaan Petrus. Ia baru saja dipulihkan dari rasa bersalah karena pernah menyangkal Gurunya, tetapi kini Tuhan berbicara tentang kematian yang menyakitkan. Ketika Petrus menoleh dan melihat Yohanes, murid yang dikenal sangat dekat dengan Yesus, ia bertanya, “Tuhan, bagaimana dengan dia?”
Dan jawaban Yesus sungguh tegas:
“Jika Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, apa urusanmu? Engkau ikutlah Aku.”
Tuhan tidak memberi penjelasan. Tidak ada pembelaan, tidak ada perbandingan. Hanya satu undangan: “Ikutlah Aku.”
2. Jangan Membandingkan Jalan Hidupmu dengan Orang Lain
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah membandingkan panggilan dan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Petrus melakukannya ketika ia melihat Yohanes. Kita pun sering demikian—melihat orang lain yang tampak diberkati, sehat, sukses, dan bertanya, “Mengapa hidupku tidak seperti itu?”
Namun Yesus dengan lembut namun tegas mengingatkan: “Apa urusanmu? Ikutlah Aku.”
Setiap orang memiliki jalan yang berbeda. Ada yang dipanggil untuk memuliakan Tuhan melalui kemenangan dan berkat yang terlihat. Ada pula yang dipanggil untuk memuliakan Tuhan melalui penderitaan, kesetiaan, dan air mata. Dalam pandangan manusia, keduanya tidak seimbang. Tetapi dalam pandangan Tuhan, keduanya sama berharganya karena keduanya membawa kemuliaan bagi-Nya.
3. Ketika Penderitaan Tidak Memiliki Jawaban
Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak memiliki jawaban di bumi. Seperti tertulis dalam Ulangan 29:29,
“Hal-hal yang tersembunyi adalah bagi Tuhan Allah kita.”
Ada rahasia ilahi yang hanya diketahui Tuhan. Kita mungkin tidak akan pernah tahu mengapa orang yang kita kasihi meninggal terlalu cepat, mengapa penyakit datang begitu tiba-tiba, atau mengapa doa seolah tidak dijawab. Tetapi iman sejati bukanlah kepercayaan karena kita mengerti, melainkan kepercayaan meskipun kita tidak mengerti.
Ketika Ayub kehilangan segalanya, ia mengajukan 181 pertanyaan “mengapa” kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak menjawab satu pun secara langsung. Tuhan hanya menunjukkan bahwa Ia berdaulat, bijaksana, dan tetap memegang kendali. Pada akhirnya, Ayub bersujud dan berkata,
“Aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.”
4. Iman yang Tetap Mengikuti Meski Tidak Mengerti
Iman yang sejati bukan hanya iman yang percaya ketika mujizat terjadi. Iman sejati adalah iman yang berkata:
“Sekalipun Ia membunuh aku, aku tetap berharap kepada-Nya.” (Ayub 13:15)
Tuhan tidak berjanji bahwa hidup akan mudah. Ia berjanji bahwa kita tidak akan berjalan sendirian. Ketika kita berada dalam lembah yang gelap, Ia tidak selalu menjelaskan, tetapi Ia selalu berjalan bersama kita.
Tuhan bisa saja mengizinkan “malam” dalam hidup kita, karena Ia juga Tuhan yang bekerja dalam kegelapan. Ia tidak memerlukan terang untuk berkarya. Bahkan sebelum Ia menciptakan matahari, Ia sudah menciptakan terang dari kegelapan. Jadi jika hidupmu sedang gelap, jangan takut—Tuhan masih bekerja.
5. Tuhan Memilihmu Karena Engkau Adalah Engkau
Ada kalimat sederhana namun sangat menguatkan:
“Aku memilihmu karena engkau adalah engkau.”
Tuhan tidak membuat kesalahan ketika Ia menempatkanmu dalam situasimu sekarang. Ia tahu siapa dirimu, Ia tahu seberapa kuat engkau, dan Ia tahu rencana-Nya akan menghasilkan kemuliaan. Apa pun bentuk penderitaanmu—entah penyakit, tekanan keluarga, atau luka batin—Tuhan akan menggunakannya untuk memuliakan nama-Nya.
6. Mereka yang Beriman, Tidak Selalu Menang di Dunia
Ibrani pasal 11 dikenal sebagai “Galeri Pahlawan Iman.” Sebagian mengalami kemenangan besar: menaklukkan kerajaan, menutup mulut singa, memadamkan api, dan menerima anak mereka yang dibangkitkan dari kematian. Namun ayat berikutnya berkata:
“Dan yang lain…”
Yang lain disiksa, dianiaya, dibunuh, hidup melarat, tanpa tempat tinggal. Mereka tidak menerima janji yang dijanjikan di dunia ini, tetapi iman mereka tetap dihitung benar. Kedua kelompok itu—yang menang dan yang menderita—sama-sama hidup dalam iman. Perbedaan mereka hanya pada musim yang Tuhan izinkan.
7. Ketika Mujizat Tidak Terjadi
Kisah Petrus dan Yakobus di penjara menjadi pengingat penting. Dua murid, dua nasib berbeda. Yakobus dieksekusi, sementara Petrus dibebaskan oleh malaikat. Bukan karena Yakobus kurang beriman. Tuhan hanya punya rencana yang berbeda. Dan keduanya memuliakan Tuhan—satu melalui kematian, yang lain melalui mujizat.
Demikian pula Paulus. Ia menyembuhkan banyak orang, tetapi sendiri hidup dengan “duri dalam daging” yang tidak pernah Tuhan angkat. Tuhan hanya berkata:
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”
8. Mengikuti Tuhan Adalah Proses Pemuliaan
Mengikuti Tuhan bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang kemuliaan. Dalam setiap air mata, setiap pertanyaan, dan setiap luka, Tuhan sedang memurnikan kita untuk satu tujuan: supaya hidup kita memuliakan Dia. Bahkan ketika kita tidak mengerti, setiap langkah dalam kegelapan yang diambil dengan iman menjadi kesaksian yang membawa terang bagi orang lain.
9. Nilai Hidupmu Ditentukan oleh Siapa yang Memilikimu
Sebuah ilustrasi indah menggambarkan hal ini: seseorang menemukan sepeda motor tua, berkarat, dan hampir hancur. Namun setelah diteliti, ternyata itu adalah milik Elvis Presley—“The King.” Nilainya melonjak bukan karena kondisinya, tetapi karena pemiliknya.
Demikian juga dengan hidup kita. Mungkin saat ini kita merasa seperti benda tua yang rusak, penuh luka dan cacat. Tapi nilai kita bukan ditentukan oleh keadaan kita—melainkan oleh siapa yang memiliki kita. Kita milik Raja di atas segala raja, Yesus Kristus. Dan karena itu, kita berharga, bahkan di tengah penderitaan.
10. Penutup: Ikutlah Dia, Meski Tanpa Penjelasan
Tuhan tidak selalu menjawab “mengapa.” Tetapi Ia selalu mengundang, “Ikutlah Aku.”
Ikutlah Dia, meski jalannya gelap.
Ikutlah Dia, meski air mata menetes.
Ikutlah Dia, meski doa belum dijawab.
Sebab satu hal pasti: di ujung semua ini, Tuhan akan dipermuliakan, dan kita akan mengerti segala sesuatu.
“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:18)
Engkau milik Sang Raja. Dan karena itu, hidupmu tetap berharga, bahkan ketika tidak ada penjelasan—hanya undangan lembut dari-Nya:
“Ikutlah Aku.”
Komentar
Posting Komentar