Bahasa Kasih kepada Tuhan: Belajar dari Wanita dengan Minyak Narwastu
Ada saat-saat dalam hidup ketika Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah aku sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hatiku, atau hanya sejauh kata-kata bibirku? Dalam sebuah kisah yang begitu indah dan penuh makna di Matius 26:6–13, kita menemukan sosok wanita sederhana yang menjadi teladan bagi setiap orang yang ingin mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ia datang membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak narwastu yang sangat mahal, lalu mencurahkannya ke atas kepala Yesus. Sebuah tindakan yang bagi banyak orang tampak sebagai pemborosan, namun di mata Tuhan, itu adalah perbuatan kasih yang murni dan berharga kekal.
1. Tuhan Betah di Hati yang “Menyambut”
Kisah ini dimulai di Betania — sebuah kota kecil yang namanya berarti House of Welcome, rumah penyambutan. Tidak ada kebetulan dalam setiap detail Alkitab. Di rumah Simon si Kusta, tempat Yesus diterima dengan penuh sukacita, hadir pula seorang wanita yang tanpa diundang datang membawa persembahan kasihnya. Tuhan Yesus betah di tempat yang menyambut-Nya dengan hati yang terbuka.
Demikian pula dalam hidup kita — Tuhan tidak akan memaksa masuk. Ia mengetuk dengan lembut dan menunggu sambutan tulus dari hati yang mau menyediakan ruang bagi-Nya. Roh Kudus tidak bekerja seperti roh jahat yang memaksa masuk; Ia datang dengan lembut, menghormati kehendak kita. Karena itu, hati yang lembut dan menyambut kehadiran Tuhan adalah tempat di mana langit terbuka, dan kasih karunia-Nya mengalir tanpa diminta.
2. Kasih yang Tidak Perhitungan
Bahasa kasih yang pertama kepada Tuhan adalah kasih yang tidak perhitungan. Wanita ini tidak menimbang-nimbang nilai dari minyak narwastunya. Ia tidak berpikir, “Sayang sekali, minyak ini mahal, seharusnya dijual saja.” Ia tahu siapa Yesus baginya, dan karena itu ia memberikan yang terbaik — bahkan satu-satunya yang paling berharga.
Berbeda dengan murid-murid yang melihat tindakannya sebagai pemborosan. Mereka menilai dari logika manusia, bukan dari hati yang mengenal kasih. Tetapi Yesus menegur mereka dengan lembut, “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan sesuatu yang baik pada-Ku.”
Cinta sejati kepada Tuhan tidak pernah diukur dengan hitung-hitungan duniawi. Orang yang benar-benar mengasihi tidak berkata, “Aku sudah melayani Tuhan, tapi kenapa hidupku begini?” Kasih yang sejati tidak menuntut imbalan. Kasih kepada Tuhan adalah persembahan, bukan transaksi.
3. Tuhan sebagai Tolak Ukur di Setiap Keadaan
Bahasa kasih yang kedua adalah menjadikan Tuhan sebagai tolak ukur dalam segala keadaan. Murid-murid menilai tindakan wanita itu dengan ukuran logika mereka — ukuran manusia yang terbatas. Namun Yesus mengajarkan bahwa ukuran surga sering kali tidak masuk akal bagi dunia.
Apa yang dianggap “fanatik” oleh manusia, bisa jadi adalah sesuatu yang berharga di mata Tuhan. Sebaliknya, apa yang dunia sanjung belum tentu berkenan bagi Allah. Karena itu, orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan harus belajar melepaskan diri dari pandangan manusia. Jangan hidup untuk opini, tetapi untuk kebenaran firman dan pimpinan Roh Kudus.
Dalam hidup, kita sering kali mengukur segala sesuatu dengan perasaan dan pikiran kita sendiri. Tapi Tuhan memanggil kita untuk hidup dengan tolak ukur surgawi — bukan berdasarkan apa yang kita pikirkan, melainkan berdasarkan apa yang Tuhan kehendaki. “Jangan bersandar pada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)
4. Segala Sesuatu Hanya untuk Tuhan
Bahasa kasih yang ketiga adalah menjadikan segala sesuatu untuk Tuhan. Wanita ini tidak datang untuk mencari perhatian. Ia tidak ingin dikenang atau dipuji. Namun Yesus berkata, “Apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia, di mana saja Injil diberitakan.”
Mengapa? Karena setiap tindakannya murni dilakukan untuk Tuhan. Ia tidak mencari pengakuan manusia, tetapi memberikan kemuliaan bagi Allah.
Hidup yang berkenan bagi Tuhan adalah hidup yang berkata: “Apa pun yang aku lakukan, aku lakukan untuk Dia.”
Ketika kita bekerja, belajar, melayani, mengampuni, bahkan ketika kita diam dalam doa, hendaknya kita berkata dalam hati: “I do this for Him.” Aku melakukan ini untuk Tuhan.
Ketika kita tidak dimengerti orang lain, tetaplah berbuat benar. Ketika kita tidak menerima pujian atau imbalan, tetaplah setia. Karena kasih sejati kepada Tuhan tidak mencari balasan, tetapi memberi tanpa syarat.
5. Mengasihi Tuhan Hari Ini, Bukan Nanti
Banyak orang menunda untuk mengasihi Tuhan. “Nanti kalau aku sudah sukses, baru aku akan melayani.” “Nanti kalau hidupku sudah tenang, baru aku akan serius mencari Tuhan.” Tetapi kebenaran firman hari ini mengingatkan kita: jangan menunda kasih kepada Tuhan.
Wanita dengan minyak narwastu itu melakukannya saat Yesus masih hidup. Ia tidak menunggu sampai Tuhan mati baru mengurapi-Nya. Saat orang lain datang dengan rempah-rempah ke kubur Yesus, tubuh-Nya sudah tidak ada di sana — mereka terlambat.
Demikian pula dengan kita, setiap kesempatan untuk mengasihi Tuhan adalah saat ini. Tidak ada jaminan esok hari masih milik kita. Kasihilah Tuhan sekarang, bukan nanti. Bersyukurlah sekarang, bukan setelah semua masalah selesai. Melayani Tuhan bukan setelah sempurna, tetapi justru di tengah ketidaksempurnaan kita.
6. Kasih yang Mengalir dari Hati yang Disembuhkan
Simon, tuan rumah tempat Yesus makan, dulunya adalah orang kusta. Penyakit kusta dalam Alkitab melambangkan dosa yang memisahkan manusia dari persekutuan dengan Allah. Tetapi Tuhan Yesus menyembuhkannya, dan Simon kini menjadi tuan rumah yang membuka pintunya lebar-lebar bagi Sang Juruselamat.
Begitu pula wanita dengan minyak narwastu — ia pernah terluka, mungkin dikecewakan oleh manusia, namun menemukan kasih yang menyembuhkan dalam pribadi Yesus. Itulah sebabnya ia mencurahkan seluruh isi hatinya di hadapan Tuhan.
Kasih sejati kepada Tuhan hanya bisa lahir dari hati yang pernah disembuhkan oleh-Nya. Orang yang pernah mengalami kasih karunia tidak akan segan memberi yang terbaik kepada Tuhan.
Bahasa Kasih yang Mengharumkan Kehidupan
Kasih yang sejati kepada Tuhan tidak dapat dipalsukan. Ia selalu tampak dalam tindakan yang tulus, dalam persembahan tanpa pamrih, dalam ketaatan yang murni, dan dalam kerendahan hati yang memilih Tuhan di atas segalanya.
Wanita dengan minyak narwastu telah mengajarkan bahwa kasih kepada Tuhan adalah:
-
Tidak perhitungan dengan Tuhan.
-
Menjadikan Tuhan tolak ukur di setiap keadaan.
-
Melakukan segala sesuatu hanya untuk Tuhan.
Ketika kita hidup dengan kasih seperti itu, hidup kita akan menjadi seperti minyak narwastu yang dipecahkan — harum dan berharga di hadapan Tuhan. Dunia mungkin tidak mengerti, tapi surga memperhatikannya. Sebab bagi siapa yang memiliki Yesus, ia memiliki segalanya.
“For whoever has Jesus, he has everything.”
Siapa yang memiliki Yesus, dia memiliki segala sesuatu.
Komentar
Posting Komentar