Jangan Bikin Ribut, Buatlah Ruang bagi Iman
Bacaan: Markus 5:22–43
Kisah dalam Markus pasal 5 ini adalah salah satu peristiwa paling menggetarkan dalam pelayanan Yesus. Di dalamnya, kita melihat dua mukjizat besar yang terjadi dalam satu perjalanan: seorang perempuan yang sembuh dari pendarahan selama dua belas tahun, dan seorang anak perempuan berusia dua belas tahun yang dibangkitkan dari kematian. Tetapi dari antara dua kisah besar itu, ada satu pelajaran halus namun sangat kuat—tentang bagaimana Yesus menghadapi kepanikan manusia dengan ketenangan surgawi, dan bagaimana iman membuat ruang, sementara ketakutan membuat keributan.
1. Ketika Kabar Buruk Datang
Yairus, seorang kepala rumah ibadat, datang kepada Yesus dengan hati hancur. Anaknya yang masih kecil terbaring di ambang kematian. Dengan penuh harap, ia memohon kepada Yesus:
“Datanglah dan letakkan tangan-Mu atasnya supaya ia sembuh dan hidup.”
Yesus pun berangkat bersamanya. Tetapi di tengah perjalanan, muncul gangguan—seorang perempuan yang menderita pendarahan datang dan menjamah jubah Yesus, dan mukjizat pun terjadi. Namun saat itu juga, kabar buruk datang dari rumah Yairus:
“Anakmu sudah mati. Tidak usah lagi engkau menyusahkan Guru.”
Berita itu seolah menutup segala harapan. Tetapi Yesus menatap Yairus dan berkata:
“Jangan takut, percaya saja.”
Kata-kata itu sederhana, namun sangat dalam. Di tengah ketakutan terbesar manusia—kematian—Yesus memberikan alternatif: bukan panik, bukan tangis, tetapi percaya.
2. Ketika Ketakutan Membuat Suara
Setibanya di rumah Yairus, Yesus mendapati suasana yang penuh keributan. Orang-orang menangis dan meratap dengan keras. Dalam tradisi Yahudi, tangisan duka bahkan bisa dilakukan oleh para pelayat profesional. Namun Yesus menegur mereka:
“Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak itu tidak mati, tetapi tidur.”
Yesus tidak mengabaikan kenyataan bahwa anak itu tidak bernapas. Tetapi Ia menolak definisi manusia tentang “akhir.” Bagi manusia, kematian adalah titik; bagi Yesus, hanya koma.
Lalu Ia menyingkirkan semua orang yang tidak percaya dari ruangan itu. Mengapa? Karena ketakutan membuat keributan, tetapi iman membuat ruang.
Sebelum mujizat bisa terjadi, Yesus terlebih dahulu menyingkirkan kebisingan—suara panik, ratapan, dan keputusasaan. Hanya mereka yang memiliki iman diizinkan masuk: ayah, ibu, dan tiga murid.
3. Mengubah Suasana Ruangan
Yesus masuk ke “ruang panik” itu, dan mengubahnya menjadi “ruang mujizat.” Ia tidak menambah kegaduhan, Ia membawa ketenangan surgawi. Ia mengambil tangan anak itu dan berkata:
“Talita kum!” — yang berarti, “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”
Dan seketika itu juga, anak perempuan itu bangkit dan berjalan. Mukjizat kebangkitan terjadi—bukan di tengah teriakan, tetapi di tengah keheningan iman.
Kisah ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting: sebelum Yesus bisa bekerja, sering kali Ia harus menyingkirkan semua “kebisingan” yang kita pelihara. Ketakutan, kekhawatiran, gosip, keluhan, dan ratapan bisa memenuhi hati dan rumah kita sampai tidak ada lagi ruang bagi iman. Yesus tidak bekerja di ruang yang dipenuhi panik; Ia bekerja di ruang yang memberi-Nya tempat untuk berdiam.
4. Mengapa Kita Sering “Bikin Ribut”?
Yesus berkata, “Mengapa kamu ribut dan menangis?” Dalam bahasa aslinya, kata “ribut” berarti menyusahkan diri sendiri. Kita sering kali menciptakan penderitaan tambahan melalui pikiran dan ketakutan kita sendiri. Berita buruk datang, lalu pikiran kita langsung melompat ke skenario terburuk. Kita mulai mengatur “pemakaman” bagi sesuatu yang belum tentu mati—harapan, hubungan, masa depan.
Namun Tuhan berkata: “Jangan membuat keributan tentang hal yang belum Aku selesai kerjakan.”
Masalahnya nyata, tapi Yesus lebih nyata. Tantangannya besar, tapi Tuhan lebih besar.
Ketika kita memelihara ketakutan, kita memberi energi kepada hal yang belum tentu benar. Tetapi ketika kita memelihara iman, kita memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja.
5. Ketika Iman Membuat Ruang
Yesus menyingkirkan orang-orang yang tidak percaya, lalu membawa ayah, ibu, dan murid-murid ke dalam ruangan. Ia menciptakan ruang iman—ruang di mana kehadiran-Nya menjadi pusat. Dan di ruang itulah kehidupan kembali.
Begitu anak itu bangkit, Yesus berkata hal yang sangat sederhana namun penuh makna:
“Berilah dia makan.”
Perintah ini tampak biasa, tetapi sesungguhnya penuh kasih. Setelah masa sakit dan kematian, Yesus ingin membawa keluarga itu kembali ke kehidupan yang normal. Ia tidak hanya membangkitkan, Ia memulihkan. Ia tidak hanya memberi mujizat, Ia mengembalikan keseharian yang indah.
Kadang, tanda kesembuhan sejati bukanlah peristiwa spektakuler, melainkan hari-hari yang kembali damai. Saat kita bisa makan bersama keluarga tanpa cemas, tidur tanpa mimpi buruk, berjalan di bawah langit sore tanpa beban berat—itulah mujizat yang sesungguhnya.
6. Jangan Buat Banyak Ado, Buat Ruang Bagi Yesus
Kata Yesus, “Mengapa kamu membuat keributan ini?” Dari kalimat itu, lahirlah ungkapan terkenal: “Much Ado About Nothing.” Kita sering membuat kekacauan besar atas hal-hal kecil, atau bahkan hal-hal yang Tuhan sudah pegang kendalinya. Kita terlalu cepat menyimpulkan “selesai” saat Tuhan baru saja mulai bekerja.
Setiap kali hati kita mulai panik, mari ingat ini:
Jangan buat keributan tentang hal yang belum selesai. Jangan biarkan ketakutan memenuhi ruangan yang seharusnya dipenuhi iman.
Karena iman bukan berarti tidak ada ketakutan—iman berarti kita memilih percaya meskipun takut.
7. Waktu untuk Bangkit dan Makan Lagi
Seperti anak perempuan itu, mungkin ada bagian dari hidup kita yang terasa mati: semangat, harapan, sukacita, atau iman kita sendiri. Tapi hari ini Yesus datang dan berkata,
“Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah.”
Dan setelah kita bangkit, Ia ingin kita makan—hidup kembali dengan penuh rasa syukur, menikmati hari-hari sederhana dengan damai. Tidak semua mujizat datang dalam bentuk kilatan cahaya; sebagian mujizat datang dalam bentuk kedamaian yang lembut.
8. Dari Panik ke Pujian
Yesus mengubah rumah yang penuh ratapan menjadi rumah yang penuh sukacita. Dan Ia masih melakukannya hari ini. Namun untuk itu, kita harus menyingkirkan kebisingan dari hati kita.
Ketika berita buruk datang, ketika doa seolah belum dijawab, ketika harapan tampak memudar—jangan biarkan ketakutan memimpin. Katakan dalam hati:
“Aku tidak akan membuat keributan. Aku akan membuat ruang bagi Yesus.”
Karena di tengah kebisingan dunia, iman adalah keheningan yang memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dan bertindak. Dan di ruang yang tenang itu, mukjizat sedang menunggu.
Komentar
Posting Komentar