Menjadi Kuat Karena Bersyukur
"Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
(1 Tesalonika 5:16–18)
Tema bersyukur sudah tidak asing bagi setiap orang percaya. Namun, setiap kali kita kembali merenungkan firman Tuhan tentang ucapan syukur, ada selalu sesuatu yang baru Tuhan ingin ajarkan. Bersyukur bukanlah sekadar reaksi spontan ketika keadaan baik, tetapi keputusan hati yang harus diambil secara sadar — setiap hari, bahkan setiap jam dan setiap detik dalam hidup ini.
Bersyukur Adalah Keputusan, Bukan Perasaan
Bersyukur tidak bergantung pada situasi di luar diri kita, melainkan pada sikap hati di dalam diri kita. Ketika kita menerima berkat, mudah bagi kita untuk berkata “terima kasih Tuhan”. Tetapi bagaimana ketika situasi tidak berjalan seperti harapan kita? Saat doa belum dijawab, ketika tubuh lelah, hati kecewa, atau hidup terasa berat — masihkah kita mampu berkata, “Terima kasih Tuhan”?
Firman Tuhan mengingatkan, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10).
Hati yang tawar adalah hati yang kehilangan rasa syukur. Saat hati menjadi hambar, kita kehilangan kekuatan untuk bertahan. Sebaliknya, hati yang penuh syukur — hati yang “asin” oleh kasih dan pengharapan kepada Tuhan — akan memancarkan kekuatan yang tidak berasal dari diri sendiri.
Kita seringkali tidak sadar bahwa kebiasaan mengeluh bisa melemahkan jiwa kita sedikit demi sedikit. Orang yang terus mengeluh akan semakin ahli dalam mengeluh. Namun orang yang belajar bersyukur, akan semakin ahli menemukan alasan untuk tetap berterima kasih kepada Tuhan.
Berdoa Sambil Bersyukur
Salah satu kunci untuk tetap kuat dalam masa kesesakan adalah berdoa sambil bersyukur.
Firman Tuhan dalam Filipi 4:6–7 berkata:
“Janganlah kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Ayat ini tidak hanya berkata “jangan khawatir, berdoa saja”, tetapi juga “berdoalah dengan ucapan syukur.” Mengapa?
Karena ucapan syukur menjaga doa kita agar tidak berubah menjadi tuntutan. Doa tanpa syukur mudah berubah menjadi daftar keluhan. Namun ketika doa disertai dengan ucapan syukur, maka hati kita akan diliputi damai sejahtera yang melampaui akal — damai yang tidak tergantung pada hasil, tetapi pada kehadiran Allah di tengah-tengah situasi kita.
Ucapan syukur mengingatkan kita pada kesetiaan Tuhan di masa lalu. Saat kita berkata, “Terima kasih Tuhan, Engkau telah menolongku waktu itu,” kita sedang meneguhkan iman bahwa Tuhan yang sama akan menolong lagi hari ini. Dengan demikian, damai sejahtera itu akan memelihara hati kita — bukan hanya sesaat, tetapi terus menerus.
Bersyukur Mengusir Rasa Iri dan Kecewa
Orang yang hidup dalam ucapan syukur tidak mudah iri dan tidak mudah kecewa.
Ketika kita bersyukur atas apa yang kita miliki, kita tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Dunia yang penuh dengan media sosial membuat kita sering tergoda untuk membandingkan hidup kita dengan orang lain — pekerjaan, keluarga, pencapaian, atau bahkan liburan.
Kita bisa saja sedang menikmati berkat Tuhan, tetapi ketika melihat orang lain memiliki lebih banyak, sukacita kita bisa lenyap seketika.
Padahal, ucapan syukur adalah penangkal dari racun perbandingan.
Bersyukur menuntun kita untuk berkata, “Tuhan, aku percaya Engkau baik, dan apa yang Engkau berikan kepadaku saat ini adalah yang terbaik bagiku.”
Belajar dari Bangsa Israel: Jangan Bersungut-sungut
Dalam 1 Korintus 10, Alkitab mencatat kesalahan bangsa Israel di padang gurun. Mereka telah melihat mukjizat Tuhan secara nyata — laut terbelah, manna turun dari langit, tiang awan dan tiang api yang menyertai — namun mereka tetap bersungut-sungut.
Sungut-sungut mereka bukan sekadar kata-kata negatif; itu adalah tanda hati yang tidak percaya dan tidak bersyukur. Akibatnya, banyak dari mereka tidak masuk ke tanah perjanjian. Firman Tuhan dengan tegas berkata:
“Janganlah bersungut-sungut seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari antara mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.” (1 Korintus 10:10)
Ucapan syukur bukan hanya soal sopan santun rohani — tetapi soal keselamatan dan kedewasaan iman. Tuhan memandang serius hati yang bersungut-sungut, karena itu menunjukkan bahwa kita tidak lagi percaya bahwa Ia sedang bekerja dalam hidup kita.
Bersyukur Setelah Ditolong Tuhan
Kita sering berdoa dengan sungguh-sungguh saat membutuhkan pertolongan Tuhan, namun begitu doa dijawab, kita lupa untuk kembali dan bersyukur.
Inilah yang digambarkan dalam kisah sepuluh orang kusta (Lukas 17:11–19).
Sepuluh orang disembuhkan, tetapi hanya satu yang kembali untuk berterima kasih.
Yang menarik, hanya satu orang yang bersyukur itu yang mendengar Yesus berkata:
“Imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Kesepuluh orang itu menerima kesembuhan tubuh, tetapi hanya satu yang menerima keselamatan jiwa.
Perbedaan itu ditentukan oleh satu hal sederhana: ucapan syukur.
Tuhan tidak sekadar ingin tangan-Nya dikenal melalui pertolongan-Nya, tetapi Ia ingin hati kita melekat kepada pribadi-Nya. Ia tidak hanya ingin kita datang mencari berkat-Nya, tetapi juga kembali untuk memuliakan nama-Nya.
Bersyukur Karena Siapa Tuhan Itu, Bukan Hanya Karena Apa yang Ia Lakukan
Akhirnya, alasan terdalam untuk bersyukur bukan karena doa kita dijawab, bukan karena hidup kita lancar, tetapi karena Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya kekal selamanya.
Seperti yang ditulis Daud dalam 1 Tawarikh 16:34:
“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”
Ketika kita belajar bersyukur karena pribadi Tuhan, bukan karena keadaan, maka tidak ada lagi alasan untuk berhenti bersyukur.
Sekalipun badai belum reda, kita tahu Tuhan tetap baik. Sekalipun jalan masih panjang, kita tahu kasih setia-Nya tidak pernah berhenti menyertai.
Kekuatan dalam Ucapan Syukur
Bersyukur bukan sekadar kata-kata manis yang diucapkan di akhir doa. Bersyukur adalah kekuatan yang memampukan kita untuk tetap teguh dalam kesesakan, tetap rendah hati dalam keberhasilan, dan tetap setia dalam perjalanan hidup.
Saat kita belajar berkata “terima kasih Tuhan” dalam segala keadaan —
di saat sakit maupun sehat, di saat kurang maupun berkelimpahan, di saat tertawa maupun menangis — kita sedang menyalakan terang iman yang membuat dunia tahu bahwa Allah kita hidup dan bekerja di tengah-tengah kita.
Jangan menunggu keadaan sempurna untuk bersyukur.
Mulailah hari ini, dengan hati yang percaya:
Tuhan baik, dan kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.
Komentar
Posting Komentar