Self-Love Dalam Terang Firman Tuhan: Mengasihi Diri Sendiri dengan Cara yang Benar

Bulan Februari sering diidentikkan dengan cinta, apalagi saat momen Valentine. Banyak yang membicarakan tentang cinta kepada pasangan, keluarga, dan sesama. Tapi ada satu jenis cinta yang sering terlupakan, yaitu mengasihi diri sendiri atau self-love. Pertanyaannya: apakah self-love itu egois? Atau justru perintah Tuhan?

Apa Kata Yesus Tentang Kasih?

Yesus menjawab pertanyaan orang Farisi dalam Matius 22:37–40 bahwa hukum yang terutama adalah:

"Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu... dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri."

Artinya, mengasihi diri sendiri adalah bagian dari hukum kasih, karena kita diminta mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Tapi sayangnya, banyak orang gagal mencintai diri sendiri secara sehat karena mereka:

  • Terjebak dalam self-indulgence (memanjakan diri secara berlebihan, hidup dalam dosa demi “menyenangkan diri”).

  • Membenci diri sendiri, merasa tidak cukup, tidak layak, tidak cantik/tampan, bahkan membenci masa lalu mereka sendiri.

Mengasihi Diri Dimulai dari Menerima Kasih Tuhan

Kita tidak akan bisa mencintai diri kita jika kita belum mengerti betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Seperti tertulis dalam 1 Yohanes 4:19,

"Kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita."

Kasih Tuhan tidak bersyarat, bukan karena kita baik, rajin doa, atau berhasil. Kita dikasihi karena kita adalah anak-Nya, seperti seorang ayah yang mencintai anaknya bukan karena prestasi, tapi karena identitasnya.

Dunia Mengasihi Karena Nilai, Tuhan Memberi Nilai

Ada dua tipe cinta:

  1. Love that loves because the object is valuable
    (Mengasihi karena objek itu bernilai — seperti mobil, rumah, atau barang mahal).

  2. Love that loves and gives value to the object
    (Mengasihi dan memberi nilai — seperti boneka robek masa kecil yang sangat berarti bagi kita).

Kasih Tuhan adalah yang kedua. Meskipun dunia melihat kita tak berharga, Tuhan mengasihi kita dan memberi kita nilai. Sama seperti seorang istri yang tetap menyimpan bantal masa kecilnya yang robek karena "baunya unik" dan penuh kenangan. Dunia bisa menganggap itu sampah, tapi baginya itu berharga.

Begitulah cara Yesus melihat kita.

Mengasihi Diri Dimulai dari Rumah

Banyak orang terluka secara emosional karena tidak pernah merasakan kasih di rumah.
Anak perempuan yang tidak pernah dipeluk ayahnya akan sulit membedakan antara pelukan cinta dan pelukan nafsu.
Anak laki-laki yang tidak pernah mendengar "Papa bangga sama kamu" akan mencari pengakuan dari dunia.

Kita harus menjadi orang tua yang hadir — secara fisik, emosional, dan rohani.

“Strong from home.”
Kalau kenyang dari rumah, anak tidak akan cari makan di luar.

Mulailah Melihat Diri Seperti Tuhan Melihat Kita

Jika kita ingin belajar mengasihi diri sendiri dengan benar, lihatlah diri kita seperti Tuhan melihat kita:

  • Ditebus.

  • Dikasihi.

  • Diberi nilai.

  • Berharga.

Berhentilah menghakimi diri sendiri lebih keras dari orang lain. Hentikan berkata “aku gak cukup”. Karena bagi Tuhan, kamu sudah cukup karena kasih karunia-Nya.

Keluarga, Gereja, dan Kasih Tanpa Syarat

Iblis sedang menyerang dua institusi yang dibangun Tuhan: keluarga dan gereja.
Jangan sampai pelayanan kita di luar rumah begitu hebat, tapi rumah tangga kita berantakan.

Buatlah rumah menjadi tempat aman, tempat penuh kasih, tempat di mana anak bisa berkata:
“You are the best dad/mom in the world.”

For the love of God, kuatlah dari rumah. Strong from home.
Karena kalau kasih dimulai dari rumah, dunia tidak akan bisa menawarkannya dengan versi palsu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup dalam Waktu Tuhan: Belajar Mengenali Kronos dan Kairos

Hidup Bagi Tuhan: Renungan dari Penderitaan Raja Hizkia

Diet yang Menyenangkan: Rahasia Langsing Tanpa Tersiksa