SELARAS DENGAN PERUBAHAN
Juli 2020
“Untuk segala
Sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pkh.3:3)
Dear Friends,
Perubahan adalah sebuah prinsip kehidupan dan
penciptaan. Tidak ada yang tetap di atas bumi, perubahan terus berlangsung dan
tidak dapat dihindari. Perubahan secara alamiah adalah hal nyata yang kita
masing2 alami terhadap perkembangan fisik dan segala yang ada di
sekitar aktivitas kita. Pokok utama berita tentang perubahan mencolok yang
sedang terjadi sejak sekitar enam bulan terakhir hingga hari ini adalah
perubahan yang terjadi ketika Si Corona datang tiba-tiba, sehingga semua
terjaga. Si virus yang angkuh ini Berjaya…hingga kini masih juara. Belum pernah
ada makhluk yang tak kasat mata begitu berkuasa dalam peradaban manusia.
Sasaran utamanya adalah orang; nyawapun bisa melayang. Sudah sekitar setengan
tahun ia bagaikan penguasa dunia.
Untuk segala sesuatu
ada masanya… perubahan yang terus berlangsung ini
menyadarkan kita bahwa betapa rapuhnya manusia itu. Adapun proses perubahan itu
baik bentuk, penyebab, cara dan waktunya bisa secara alamiah, bisa ditunggangi pengaruh
“si jahat” atau atas izin Tuhan. Saat ini bumi seolah sedang bergoncang dan
berdampak pada semua lini kehidupan. Perubahan yang paling mencolok terlihat
dari cara orang menjalani kehidupan: kesehatan, keamanan, sosial,.. dan
menggerakkan roda perekonomian. Penggunaan teknologi digital untuk tetap
menjalani kehidupan – interaksi melalui dunia maya: pekerjaan rutin, sekolah,
bisnis, bimbingan kerohanian... di mana masyarakat mulai berhati-hati
menerapkan pola hidup sehat; meskipun ada juga orang yang kurang peduli? Atau
bermasa bodoh! Terkesan ada juga yang meremehkan. Kini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sudah
terasa lebih sukar dari biasanya. Sepertinya orang lupa bahwa sekarang si Corona
ini seenaknya menentukan sendiri aturan baru dunia –runtuhlah semua kebiasaan lama. Ada juga orang yang coba
menentang perubahan itu; mungkin karena sudah terbiasa dengan sesuatu yang
lama. Padahal bagi si Corona tidak peduli apa kebiasaan Anda apa agama atau
syariat yang harus diikuti, apakah Anda seorang yang taat beragama atau tidak, suku
apa, di mana berada, dan lain sebagainya, itu semua tidak ada artinya bagi si
corona… semua dihantamnya tak peduli siapa Anda.
Perubahan yang terjadi mestinya direspons dengan akal
sehat agar bisa beradaptasi dan selaras dengan perubahan itu; adalah sebuah
tindakan iman dan rasional. Kalau orang
bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang tak berpengalaman berjalan terus, lalu
kena celaka. (Ams.22:3; 27:12).
Ketika ada keluarga yang ”merampas” jenazah yang
telah dinyatakan positif covid seperti yang terjadi beberapa hari lalu
(26/06-’20) di Jl. Jend. Sudirman (BatuMerah Atas ) Ambon, mungkin
merupakan suatu sikap nekad, bermasa
bodoh, sengaja melanggar protap yang telah ditetapkan pemerintah.. hanya demi
sebuah ritual tertentu yang sudah baku dilakukan dari masa ke masa untuk
penguburan orang meninggal.
Ada pula orang lain yang hasil rapid testnya reaktif
dan diminta agar dilanjutkan dengan isolasi dan swab test, tetapi menolaknya.
Seolah lebih memilih “nama baik” dari pada kehilangan “nyawa”. Edan memang,
tapi itulah faktanya. Seharusnya “lupakan masa lalu” jangan terkurung dengan
kenyamanan yang dulu-dulu. Mau tidak mau, kita harus memasuki era “New Normal”.
Sebetulnya yang harus dilakukan adalah tetap tekun berjalan bersama Tuhan.. Dia
tahu yang terbaik dan akan menuntun kita meskipun jalan itu harus melewati
lembah kekelaman. Hanya Dialah yang tidak berubah dari kekal hingga kekal
(Yes.40:28; Ibr.13:8).
Beberapa orang terperangkap dengan kebiasaan
menikmati kenyamanan gedung gereja, AC yang suejuk, liturginya yang
menarik, atau memenuhi berbagai syariat
agama dan banyak kegiatan rohani lainnya. Cenderung lupa bahwa ibadah juga adalah
sikap hati dan cara hidup alamiah dalam keseharian 24/7 bagi kemuliaan Allah,
untuk kebaikan kita. Suatu hubungan yang semakin akrab dengan Sang
Pencipta dan Juruelamat kita sebagaimana
Roh Kudus membimbing oleh firman Tuhan dan doa kita, tidak dibatasi lagi oleh waktu, cara dan
tempat tertentu serta aturan manusia atau syariat tertentu yang menekan dan “melelahkan.”
Tuhan Yesus telah memberikan banyak contoh bagi kita Selama pelayanan-Nya di
bumi. Jadi sebaiknya kita tetap focus kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya
yang disesuaikan dengan situasi new normal ini secara bertahap sebagaimana Dia
memimpin dan memampukan kita. Mengapa? Karena kehidupan ini harus terus di
jalani walaupun ada pembatasan2 tertentu, namun Orang harus makan,
bekerja, sekolah, bisnis harus jalan…roda ekonomi harus berputar… saling
ketergantungan. Melewati berbagai tantangan baru ini haruslah menjadi peluang
bagi kita untuk beradaptasi sesuai kondisi di kota, desa.. di area kita masing2..
Tentu tidak sama bagi setiap orang namun
harus dijalani dan dinamis agar IKA pun bisa
dikobarkan dengan cara2 yang disesuaikan dengan konteks, budaya dan
kebiasaan baru. Tuhan kita sangat kreatif. Dia sanggup menolong kita dalam hal
memasuki era perubahan ini.
Mengunjungi berbagai informasi melalui internet
bukanlah hal aneh lagi, tetapi sesuatu yang lumrah, namun harus dibarengi
keseimbangan dan awas dalam hal kewajaran dan komunikasi interpersonal dengan
orang2 di sekitar kita. Dalam masa pandemi ini, kitapun bisa melihat
ada banyak orang yang antusias untuk mencari ‘jalan lurus’… ada yang telah
menemukan-Nya dengan berbagai cara yang diberikan Tuhan agar mereka bisa
menemukan Dia. ..Musim-musim dan batas-batas kediaman telah ditetapkan-Nya supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah
dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing (Kisah
17:27).
Berbagai kesukaran yang sedang terjadi ini membuat
banyak orang kuatir, takut mati, lebih sungguh mencari “keselamatan” dan lain
sebagainya. Di google, youtube, facebook, instagram, wa, … ada banyak “makanan
instan” jasmani dan rohani yang dikemas dan disajikan dalam berbagai bentuk.
Bagaimana agar kita tidak terjebak untuk melahap semuanya? Kita haruslah
menggunakan akal sehat agar tidak terjebak. Ujilah segala sesuatu dengan firman
Tuhan dan peganglah yang baik dan benar
Bagaimana dengan kita? Apa yang harus dilakukan? Taruhlah dalam hati Anda apa yang ada dalam
hati Allah (Daws Trotman). Apa yang ada dalam hati Allah?... jiwa-jiwa
ciptaan-Nya yang sedang terhilang… jika demikian, mengapa banyak umat K yang
terus sibuk dengan masalah2 intern dan hanya memikirkan kebutuhan
sendiri, egois dan ingin menjadi pusat perhatian? Wao, itulah yang terjadi.
Berbagai argument pun di shering dan tanpa disadari itulah yang sedang
menggambarkan suasana hatinya. Si jahat
akan senang jika kita pun melakukan berbagai bentuk kegiatan rohani apapun juga
asalkan tidak pergi untuk menjangkau yang terhilang!. Ada orang yang mungkin
mengatakan: bagaimana bisa pergi? Inikan si corona lagi mengamuk. Belas kasihan
dari salib Kristus yang seharusnya menggerakan kita meskipun ada halangan
(lht.2Kor.5:14-15). Apakah si corona bisa membatasi firman Tuhan dan doa-doa
kita? apakah kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain via berbagai
vasilitas yang sedang kita “genggam?” Apakah kita tidak bisa keluar menemui
beberapa orang yang sedang membutuhkan pertolongan?... kita orang2
biasa (ordinary people) masih bisa melakukan banyak hal demi kebutuhan sesehari dan demi kemajuan IKA pada masa
pandemi meskipun dalam suasana dibatasi oleh protapnya. Semua itu tergantung
dari cara pandang dan hati kita terhadap cinta-kasih Allah bagi dunia, bagi
bumi yang sedang bergoncang ini. Kita tidak harus ‘sempurna, lengkap’ atau
segala yang kita butuhkan terpenuhi baru pergi! Ini bukan soal pengetahuan, ini
soal hati. Inilah waktunya, sebab: segala
sesuatu ada masanya… Disepanjang 1-2 minggu belakangan ini, keluarga kami
ada pergumulan berat, ada peperangan rohani yang nyata (ceritanya panjang), anak2
turut dilibatkan ini adalah peperangan dan tidak ada gencatan senjata, karena
ada suatu terobosan bersama teman2
suatu komunitas dalam rangka kemajuan IKA. Lintas pulau, nun jauh di sana… Roh
Kudus bekerja dengan heran dan bebas; tidak ada yang bisa menghalangi-Nya
sehingga banyak kaum “Fokus” yang mendengar kabar baik tentang IKA dan menjadi
pecaya dan menerima Isa Almasih sebagai Juruselamat. Kita sudah ada di sini di
antara berbagai suku, sekitar 235 juta kaum F yang tersebar di 17.504 pulau di
negara kita. Hal ini mengingatkan kami bahwa dalam masa pandemi ini selain
pelayanan yang sudah ada, kita pun masih bisa melakukan sesuatu lain secara
terintegrasi. Hidup dan pelayanan kita haruslah bersifat holistic.
Baiklah, kita saling mendoakan agar Tuhan menaruh
dalam kita bagaimana, serta dengan siapa kita dapat berkolaborasi melakukan bagian kita untuk menggerakan IKA di
masa new normal ini; karena segala sesuatu ada masanya. Mengabaikan suatu perubahan
musim dapat menyebabkan kita kehilangan tujuan yang telah diberikan Tuhan pada
kita. Mereka yang gagal memperhitungkan, merencanakan, menjangkau, dan mengatur
perubahan akan menyesali masa lalunya di masa yang akan datang.
Moga kita bisa
terus mengobarkan ‘api Injil’ bagi mereka yang sering “bersentuhan”
dengan kita di sekitar berbagai aktivitas hari demi hari. Tuhan Yesus yang
telah memanggil, memuridkan dan mengutus kita memberi kekuatan, kepekaan dan
keberanian untuk melakukan Panggilan, visi dan nilai-nilai utama kita sampai
Maranatha, amin.
Terima kasih atas kesatuan hati untuk turut meluaskan
IKA.
Salam,
Elly n Merry
Komentar
Posting Komentar