JANGAN MELUPAKAN TUHAN DALAM PERENCANAAN (YAKOBUS 4: 13-17)

Saat Teduh Pagi Jumat, 3 Juli 2020

"Jangan Melupakan Tuhan dalam perencanaan" (Yakobus 4: 13-17)


Setiap orang punya rutinitas masing2. Saya juga punya...dirumah sebagai kepala keluarga, di sekolah sebagai guru dan kepala sekolah, di luar sana mungkin sebagai teman dan sebagainya. Dan dalam setiap rutinitas itu pasti ada planning masing2 juga.. Itu menunjukkan bahwa, Hidup yang terencana merupakan suatu bukti bahwa saya mempunyai target. Tidak sekedar menjalani hidup. Sekaligus juga sebagai pertanda bahwa saya sangat menghargai setiap waktu, potensi dan sarana hidup yang Tuhan anugerahkan.  Dalam setiap bentuk perencanaan, mesti disertai komitmen dan usaha untuk mewujudkannya, agar rencana-rencana yang saya bangun tidak sekedar mimpi dan angan-angan belaka


Firman Tuhan pagi ini mengingatkan saya bahwa setiap perencanaan/planning harus melibatkan Tuhan di sana. Mengapa itu penting?

-KARENA HIDUP SAYA ITU SEPERTI UAP (KAPAN SAJA SAYA AKAN LENYAP)

Melalui bacaan ini, Yakobus menyoroti kebiasaan buruk saya selaku manusia yang sering tidak melibatkan Tuhan dalam berbagai rencana kehidupan saya. Mungkin ada saat-saat tertentu dalam kehidupan saya, saya tidak lagi melibatkan Tuhan dalam rencana-rencana hidup saya, karena saya masih merasa mampu mengatur langkah hidup saya sendiri.  Terkadang, dengan mengandalkan pengalaman, kepintaran, kekuatan, kecanggihan teknologi, uang atau kekayaan yang saya miliki, saya mengira bahwa apa yang saya rencanakan dan kerjakan pasti berhasil.

Dengan tegas, Yakobus mengkritik praktek hidup dan cara berpikir seperti ini. Ia mengatakan, “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (ay.14). Perjalanan kehidupan ini tidak selurus dan semulus yang saya bayangkan. Harapan dan kenyataan tidak selamanya berbarengan. Terkadang ada  hambatan  yang tidak pernah saya harapkan, sementara saya hanya bisa menduga-duga dan mengira-ngira. Oleh karena itu, Yakobus menyarankan agar dalam setiap perencanaan, saya selalu mengatakan bahwa, “jika Tuhan menghendakinya maka kami akan berbuat ini dan itu” (ay.15).

Menjadi pertanyaan saya sebagai koreksi diri,
apakah selama ini saya telah menempatkan Tuhan dalam kehidupan saya pada posisi yang semestinya? Apakah ketika saya memulai hari-hari hidup saya, saya sudah mengawalinya dengan mengharapkan dan mengandalkan perlindungan kasih Tuhan? Apakah saya telah menjadikan Tuhan sebagai sumber segala berkat; rohani maupun jasmani? Apakah saya telah menjadikan diri saya sebagai orang berkenan di hati Tuhan karena kepercayaan saya kepada-Nya, sehingga berkat-berkat Tuhan terus mengalir kepada saya? Mari saya mengandalkan Tuhan dalam segala aspek dan aktivitas kehidupan saya. Jangan saya hanya mengandalkan kemampuan saya sendiri, melainkan yang utama adalah harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Bukankah hidup saya hanya sebentar saja, jika dibandingkan dengan kekekalan Allah? Yakobus mengibaratkan hidup saya di dunia ini sebagai uap yang hanya kelihatan sebentar saja, lalu kemudian lenyap.

Apa yang harus saya lakukan?

-Setiap persiapan kegiatan yang saya rencanakan pada saat ini… (sebutkan rencana kegiatan apa……), saya ingin sungguh-sungguh mengarahkan segala pengharapan hidup saya hanya ke dalam tangan Tuhan. Biarlah campur tangan Tuhan yang selalu saya nantikan, mengatur segala langkah-langkah perencanaan dan pekerjaan yang akan saya lakukan, sehingga oleh bimbingan Roh Kudus saya senantiasa diberikan hikmat dan pengertian untuk mengikuti segala jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. Sebab Tuhan pasti membuat segala sesuatu menjadi indah pada waktunya.

-Firman Tuhan yang saya baca pagi ini mengajarkan kepada saya bahwa segala usaha saya sebagai manusia dalam perencanaan apapun, akan menjadi sia-sia jika hanya mengandalkan kekuatan saya semata-mata. Hal ini berarti, Tuhanlah yang harus menjadi dasar dalam segala aktivitas saya, bahkan dalam rencana dan pekerjaan saya yang terkecil sekalipun. Orientasi hidup yang benar adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm 11:36). Terpujilah nama Tuhan. Amin!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup dalam Waktu Tuhan: Belajar Mengenali Kronos dan Kairos

Hidup Bagi Tuhan: Renungan dari Penderitaan Raja Hizkia

Diet yang Menyenangkan: Rahasia Langsing Tanpa Tersiksa