Jangan Biarkan Lukamu Sia-Sia
Bacaan: Kitab Yeremia 38:9–13
Ada sebuah gambaran yang sangat kuat dalam kisah nabi Yeremia. Ia adalah seorang yang dipanggil Tuhan sejak dalam kandungan. Dalam pasal pertama, Tuhan menyatakan bahwa ia ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Namun dalam pasal 38, kita menemukan dia bukan sedang berdiri di mimbar kehormatan, melainkan tenggelam di sebuah perigi berlumpur—sebuah dungeon yang gelap, kotor, dan mematikan.
Teks itu berkata, “Ia mungkin mati di situ.”
Ia bukan hanya terkurung—ia kelaparan. Tidak ada lagi roti di kota. Jika tidak ada pertolongan, nasibnya sudah pasti: mati dalam lumpur dan kehinaan.
Lubang Itu Nyata
Lubang Yeremia bukan hanya lubang fisik. Ia melambangkan tempat di mana harapan hampir padam. Tempat di mana seseorang merasa dilupakan, dibuang, dan tak berharga.
Lubang itu bisa berupa:
Kecanduan yang tak kunjung lepas
Depresi yang diam-diam menggerogoti
Rasa bersalah masa lalu
Kegagalan finansial
Hubungan yang hancur
Dosa yang terus menghantui
Banyak orang di sekitar kita sedang berada di lubang seperti itu. Bahkan mungkin kita sendiri pernah berada di sana—atau masih berjuang keluar darinya.
Jika tidak ada yang turun tangan, mereka bisa “mati” di sana. Mati secara rohani. Mati dalam harapan. Mati dalam iman.
Perintah Raja dan Rahasia Perbendaharaan
Ketika kabar itu sampai kepada raja, ia memerintahkan agar Yeremia segera diangkat keluar sebelum ia mati. Namun ada satu detail yang menarik: orang-orang yang diutus tidak hanya membawa tali. Mereka pergi ke perbendaharaan raja dan mengambil kain-kain usang—kain compang-camping, kain tua, kain kotor—untuk dijatuhkan kepada Yeremia agar dililitkan di bawah ketiaknya sebelum ditarik dengan tali.
Pertanyaannya:
Mengapa kain kotor ada di perbendaharaan raja?
Bukankah perbendaharaan identik dengan emas, perak, permata, dan benda-benda berharga?
Mengapa raja menyimpan kain tua yang penuh noda?
Gambaran rohani di sini begitu indah. Apa yang dianggap dunia tidak berharga, ternyata memiliki tempat di dalam istana raja. Apa yang dunia buang, raja simpan.
Kita Semua Pernah Menjadi “Kain Kotor”
Nabi Yesaya menulis bahwa segala kebenaran manusia seperti kain yang kotor di hadapan Tuhan (Yesaya 64:6). Artinya, sebaik apa pun usaha kita, tetap ada noda dosa yang tidak bisa kita bersihkan sendiri.
Kita mungkin pernah:
Ternoda oleh kesalahan besar
Terkoyak oleh trauma
Kusut oleh rasa malu
Hancur oleh pilihan yang salah
Dunia akan berkata, “Buang saja.”
Setan akan berkata, “Itu noda permanen.”
Tetapi Raja berkata, “Aku punya tempat untuk itu.”
Tuhan tidak membuang hidup yang ternoda. Ia menebusnya.
Mengapa Bukan Emas yang Dilempar ke Dalam Lubang?
Bayangkan jika yang dilempar ke dalam lumpur itu adalah emas atau perak dari perbendaharaan raja. Emas akan tenggelam. Ia tak bisa menolong. Ia terlalu berat, terlalu keras, terlalu tidak relevan dengan kondisi di dalam lumpur.
Tetapi kain tua?
Ia pernah bersentuhan dengan kotoran. Ia fleksibel. Ia bisa dililitkan. Ia bisa mengangkat.
Inilah rahasia pelayanan yang sejati:
Orang yang pernah keluar dari lubang seringkali lebih efektif menjangkau mereka yang masih di dalamnya.
Seseorang yang pernah sembuh dari kecanduan bisa berbicara dengan empati yang tidak bisa ditiru oleh teori.
Seseorang yang pernah hampir bunuh diri bisa memahami gelapnya malam seseorang yang sedang putus asa.
Seseorang yang pernah bangkrut bisa mengerti rasa malu dan ketakutan yang tersembunyi.
Apa yang dunia sebut noda, Tuhan sebut kesaksian.
Jangan Biarkan Sakitmu Sia-Sia
Banyak orang ingin melupakan masa lalu mereka. Kita ingin menghapus bagian-bagian memalukan dari cerita kita. Tetapi bagaimana jika justru bagian itu yang Tuhan ingin pakai?
Yeremia tidak bisa mengangkat dirinya sendiri. Ia membutuhkan tali. Ia membutuhkan kain. Ia membutuhkan seseorang yang cukup peduli untuk turun tangan.
Demikian juga hari ini—ada orang yang hanya akan keluar dari lubangnya ketika mereka mendengar ceritamu.
Bukan cerita kesuksesanmu.
Bukan pencapaianmu.
Tetapi proses pemulihanmu.
Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita untuk kita sendiri. Ia menyelamatkan kita agar kita menjadi alat penyelamat bagi orang lain.
Dari Noda Menjadi Kesaksian
Alkitab penuh dengan tokoh yang tidak sempurna:
Yusuf pernah sombong sebelum diproses
Musa pernah menjadi pembunuh
Daud jatuh dalam perzinahan
Yunus melarikan diri dari panggilan Tuhan
Rahab memiliki masa lalu kelam
Namun Tuhan menebus mereka dan memakai mereka.
Mengapa?
Karena Tuhan tidak mencari orang yang tidak pernah jatuh. Ia mencari orang yang mau bertobat, dipulihkan, dan dipakai.
Nodamu tidak membatalkan panggilan Tuhan.
Masa lalumu tidak menggagalkan masa depanmu.
Lumpurmu tidak lebih kuat daripada anugerah-Nya.
Engkau Tidak Tidak Berharga
Ada suara yang berkata, “Kamu rusak. Kamu kotor. Kamu gagal. Kamu tidak layak.”
Tetapi Injil menyatakan sesuatu yang berbeda:
Engkau tidak tidak berharga—engkau telah dibasuh.
Engkau tidak sia-sia—engkau sedang diproses.
Engkau bukan sampah—engkau disimpan di perbendaharaan Raja.
Tuhan mengubah kain menjadi alat penyelamat.
Ia mengubah bekas luka menjadi pintu pelayanan.
Ia mengubah rasa sakit menjadi pesan pengharapan.
Panggilan untuk Bertindak
Mungkin hari ini ada dua jenis pembaca:
Engkau yang masih di dalam lubang.
Jangan menyerah. Raja sudah memerintahkan pertolongan. Ada tali dan kain yang akan menjangkau. Tuhan belum selesai dengan hidupmu.Engkau yang sudah pernah ditarik keluar.
Jangan simpan ceritamu. Jangan kubur kesaksianmu. Ada seseorang yang akan mati secara rohani jika kamu tidak melemparkan “kainmu” ke dalam lubang mereka.
Ceritakan bagaimana Tuhan menolongmu.
Ceritakan bagaimana Ia memulihkanmu.
Ceritakan bagaimana Ia menemukanmu saat semua orang lain mengabaikanmu.
Dari Lubang ke Istana
Yeremia tidak mati di lumpur. Ia diangkat. Ia diselamatkan. Ia tetap menjalani panggilannya.
Demikian juga dengan kita.
Tuhan adalah Raja yang menyimpan kain usang di dalam perbendaharaan-Nya. Ia menebus yang rusak, memulihkan yang hancur, dan memakai yang dianggap tak layak.
Jangan biarkan penderitaanmu sia-sia.
Biarkan Tuhan menjadikannya tali yang menyelamatkan orang lain.
Karena di tangan Raja,
kain kotor bisa menjadi alat kemuliaan.
Komentar
Posting Komentar