Jangan Bersembunyi dari Mahkotamu
“Tiap hari ingin bersama-Mu… jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah kering tiada berair.”
Kerinduan seperti ini adalah inti dari iman yang hidup. Bukan sekadar aktivitas rohani, bukan sekadar kebiasaan mingguan, melainkan kerinduan mendalam untuk tinggal dekat dengan Tuhan setiap hari. Namun dalam perjalanan iman, ada satu bahaya yang sering kali tidak kita sadari: kita bersembunyi dari mahkota yang Tuhan sendiri telah sediakan bagi kita.
Hari ini kita akan merenungkan sebuah kisah dari Kitab 1 Samuel pasal 10, tentang seorang pemuda bernama Saul yang dipilih menjadi raja pertama Israel. Dari kisahnya, kita belajar bukan hanya tentang kepemimpinan, tetapi tentang panggilan, ketaatan, dan sikap hati terhadap kehendak Tuhan.
1. Mata yang Tertuju Kepada Tuhan
Sebelum bangsa Israel memiliki raja, mereka dipimpin oleh nabi, dan pusat kehidupan rohani mereka ada di Mispa. Nabi Samuel mengumpulkan bangsa itu di hadapan Tuhan.
Ada satu prinsip penting di sini: segala sesuatu harus dimulai dari hadapan Tuhan.
Kebangunan rohani bukanlah suasana emosional. Kebangunan rohani adalah kondisi ketika mata seluruh umat tertuju kepada Tuhan. Ketika perhatian kita beralih kepada dunia, ambisi pribadi, atau perbandingan dengan orang lain, di situlah kita mulai kehilangan arah.
Seperti Petrus yang berjalan di atas air—selama matanya tertuju kepada Yesus, ia tegak. Tetapi ketika ia melihat angin dan badai, ia mulai tenggelam.
Pertanyaannya:
Ke mana matamu tertuju hari-hari ini?
2. Ketika Manusia Meminta yang Bukan Rencana Awal Tuhan
Bangsa Israel meminta raja “seperti bangsa-bangsa lain.” Secara lahiriah, permintaan itu terlihat wajar. Tetapi di mata Tuhan, itu adalah bentuk penolakan terselubung.
Mereka tidak pernah berkata langsung, “Kami menolak Engkau.”
Namun ketika mereka berkata, “Kami ingin raja selain Engkau,” Tuhan membaca isi hati mereka.
Ini pelajaran yang sangat dalam:
Tuhan bukan hanya mendengar kata-kata kita. Dia membaca hati kita.
Kita mungkin berkata, “Tuhan, aku tetap mengasihi Engkau.”
Tetapi ketika kita memilih kepahitan, kompromi, atau dosa yang kita pelihara, secara tidak sadar kita sedang berkata “tidak” kepada Tuhan.
Menolak Tuhan tidak selalu dilakukan dengan ucapan kasar.
Kadang itu terjadi melalui keputusan kecil yang berulang-ulang.
3. Saul yang Bersembunyi di Antara Barang
Ketika undian dilakukan dan suku Benyamin terpilih, lalu keluarga Matri, akhirnya nama Saul disebut. Namun saat ia dicari, ia tidak ditemukan. Ternyata ia bersembunyi di antara barang-barang.
Ironis.
Orang yang baru saja dipenuhi Roh Tuhan, yang dipilih menjadi raja, justru bersembunyi ketika waktunya tampil.
Inilah gambaran banyak orang percaya:
Kita berdoa minta Tuhan pakai hidup kita.
Kita berkata siap melakukan kehendak-Nya.
Tetapi ketika kesempatan datang, kita merasa belum siap.
Kita menunda.
Kita menghindar.
Kita bersembunyi.
Kadang kita menyebutnya “rendah hati.”
Padahal bisa jadi itu adalah ketakutan.
Atau bahkan penolakan halus terhadap tanggung jawab yang Tuhan berikan.
4. Jangan Bersembunyi dari Mahkotamu
Setiap orang memiliki mahkota yang Tuhan siapkan.
Mahkota pelayanan.
Mahkota kebenaran.
Mahkota kemuliaan.
Bahkan mahkota duri—penderitaan karena ketaatan.
Masalahnya bukan apakah kita punya panggilan.
Masalahnya adalah: apakah kita mau menerimanya.
Sering kali kita berkata:
“Nanti saja.”
“Belum waktunya.”
“Masih belum siap.”
Tetapi jika benar Tuhan yang memanggil, waktu terbaik selalu adalah sekarang.
Menunda ketaatan hanya memperpanjang pergumulan.
5. Tuhan yang Rela Turun Standar untuk Menjemput Manusia
Menariknya, sekalipun bangsa Israel salah, Tuhan tetap mengizinkan mereka memiliki raja. Bahkan Tuhan memenuhi Saul dengan Roh-Nya.
Betapa baiknya Tuhan.
Dia bukan pribadi yang mudah tersinggung lalu meninggalkan kita.
Bahkan ketika kita memaksa kehendak kita sendiri, Tuhan masih mencoba mengolah pilihan itu untuk membawa kita kembali kepada-Nya.
Namun, ada perbedaan penting:
Sesuatu bisa diizinkan Tuhan, tetapi belum tentu berkenan di hati-Nya.
Pertanyaan refleksi bagi kita:
Apakah yang kita kejar hari ini benar-benar menyenangkan hati Tuhan, atau sekadar sesuatu yang Tuhan izinkan karena kita memaksanya?
6. Raja sebagai Pengelola, Bukan Pemilik
Samuel menuliskan hak-hak kerajaan dan meletakkannya di hadapan Tuhan. Artinya, raja Israel bukan pemilik bangsa itu. Ia hanyalah pengelola.
Ini juga berlaku bagi kita:
Orang tua bukan pemilik anak, hanya pengelola titipan Tuhan.
Pemimpin bukan pemilik orang-orang yang dipimpin, hanya penjaga.
Pebisnis bukan pemilik mutlak hartanya, hanya pengelola berkat Tuhan.
Pelayan Tuhan bukan pemilik pelayanan, hanya hamba.
Pada akhirnya, semua akan dipertanggungjawabkan kepada Raja di atas segala raja.
Mahkota kita bukanlah jabatan.
Mahkota kita adalah hubungan kita dengan Kristus.
Jika hubungan itu hilang, semua pencapaian lain menjadi kosong.
7. Apakah Engkau Baik-Baik Saja dengan Tuhan?
Ukuran keberhasilan rohani bukan seberapa dipakai kita.
Bukan seberapa terlihat berkat kita.
Bukan seberapa banyak orang memuji kita.
Pertanyaannya sederhana:
Saat engkau sendiri dengan Tuhan, apakah hubunganmu masih hangat?
Apakah masih ada rasa haus dan lapar akan hadirat-Nya?
Apakah matamu masih tertuju kepada-Nya?
Sebab hanya dekat Tuhan saja jiwa menjadi tenang.
Jangan Lari
Jika Tuhan hari ini sedang meneguhkan panggilan dalam hidupmu—
jangan bersembunyi.
Jika Tuhan sedang mendorongmu untuk melayani—
jangan tunda.
Jika Tuhan menaruh beban untuk mengampuni—
lakukan sekarang.
Jika Tuhan mengajakmu masuk lebih dalam—
jangan menjauh.
Jangan bersembunyi di antara “barang-barang” kesibukan, alasan, atau ketakutanmu.
Mahkota itu bukan untuk menindasmu.
Mahkota itu untuk memuliakan Tuhan melalui hidupmu.
Dan pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah mahkota yang terlihat, tetapi ketika kita bisa berkata dengan tulus:
“Mataku tertuju pada-Mu.
Segenap hidupku kuserahkan pada-Mu.
Ku mau mengikuti kehendak-Mu.”
Amin.
Komentar
Posting Komentar