Doa yang Berbahaya
Banyak orang menyukai doa yang aman. Doa yang isinya tidak terlalu menantang, tidak terlalu mengganggu kenyamanan, tidak terlalu mengguncang hidup. Doa yang sekadar meminta berkat, perlindungan, kelancaran, dan jawaban cepat atas masalah. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun ada jenis doa lain—doa yang berbahaya.
Berbahaya bukan karena mencelakakan, tetapi karena mengguncang kenyamanan kita. Doa yang berbahaya adalah doa yang menyerahkan kendali kepada Tuhan. Doa yang membuka ruang bagi Tuhan untuk mengubah, mengoreksi, bahkan menghancurkan hal-hal dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.
Di dalam keempat Injil—Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes—kita melihat bagaimana Yesus dengan sengaja mengambil waktu untuk berdoa. Ia bangun pagi-pagi benar, atau mengundurkan diri dari keramaian untuk mencari tempat sunyi. Jika Anak Manusia saja memilih untuk bergantung kepada Bapa dalam doa, betapa lebih lagi kita yang terbatas ini.
Doa bukan aktivitas tambahan. Doa adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan Tuhan.
1. “Tuhan, Tambahkan Iman Kami”
Dalam Injil Lukas 17:5, para rasul berkata kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami.” Ini adalah doa yang sederhana, tetapi berbahaya.
Mengapa berbahaya?
Karena ketika kita meminta iman kita ditambah, Tuhan sering kali mengizinkan situasi yang menuntut iman itu untuk bertumbuh. Iman tidak bertambah dalam zona nyaman. Iman bertumbuh ketika kita menghadapi ketidakpastian, kekecewaan, dan keadaan yang tidak kita mengerti.
Hari-hari ini, tantangan terbesar banyak orang bukan hanya soal ekonomi atau kesehatan. Tantangan terbesarnya adalah kepercayaan. Kita mulai meragukan karakter Tuhan. Kita mulai bertanya dalam hati:
Apakah Tuhan benar-benar peduli?
Apakah Tuhan pilih kasih?
Apakah doa saya didengar?
Doa “tambahkan iman kami” berarti kita bersedia melewati proses. Sama seperti tubuh yang bertumbuh dari bayi menjadi dewasa, iman pun bertumbuh melalui tahapan. Iman kita dibentuk, diuji, dan dimurnikan.
Orang yang malas berdoa sering kali tanpa sadar sedang berkata, “Saya bisa mengandalkan diri sendiri.” Namun orang yang berdoa sedang berkata, “Hidup saya bergantung pada anugerah.” Ia sadar bahwa kecerdasan, uang, atau koneksi tidak cukup untuk menopang seluruh hidupnya.
Berdoa untuk iman yang lebih kuat berarti kita rela kehilangan ilusi kontrol dan belajar percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
2. “Selidikilah Aku, Ya Tuhan”
Mazmur 139:23–24 adalah salah satu doa paling jujur dan paling berbahaya dalam Alkitab:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku; ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.”
Doa ini bukan doa orang yang merasa sempurna. Ini doa orang yang sadar bahwa ia bisa saja salah tanpa menyadarinya.
Sering kali kita merasa sudah cukup baik:
Sudah ke gereja.
Sudah melayani.
Sudah menjadi orang tua atau pasangan yang “lumayan”.
Sudah tidak melakukan dosa besar.
Tetapi doa ini berkata, “Tuhan, jangan ukur hidupku dengan standarku. Ukur hidupku dengan standar-Mu.”
Bayangkan seseorang yang merasa tubuhnya baik-baik saja. Ia makan teratur, berolahraga, minum vitamin. Namun saat medical check-up, ditemukan angka kolesterolnya sudah di ambang batas berbahaya. Tanpa pemeriksaan menyeluruh, ia tidak pernah tahu ada sesuatu yang tersembunyi.
Begitu juga dengan hati kita.
Dari luar terlihat rapi. Senyum tetap ada. Pelayanan tetap berjalan. Aktivitas rohani tetap dilakukan. Tetapi di dalam bisa saja ada:
Kepahitan yang belum diselesaikan
Kesombongan rohani
Motif yang tidak murni
Dendam yang disimpan
Doa “selidikilah aku” seperti meminta Tuhan membuka lemari hati kita—yang mungkin selama ini kita tutup rapat-rapat. Doa ini menyakitkan, tetapi menyembuhkan.
Kita lebih mudah menilai orang lain daripada menilai diri sendiri. Padahal pada akhirnya, kita tidak akan diminta bertanggung jawab atas tindakan orang lain, tetapi atas respons dan pilihan kita sendiri.
Doa yang berbahaya adalah doa yang berkata:
“Tuhan, kalau ada yang salah dalam diriku, tunjukkan. Sekalipun itu tidak enak untuk aku dengar.”
3. “Hancurkan Aku” – Menyangkal Diri dan Memikul Salib
Dalam Injil Matius 16:24 tertulis:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”
Mengikut Kristus bukan hanya soal menerima berkat. Itu berarti siap menyangkal diri. Siap melepaskan ego. Siap diremukkan bila perlu.
Ada sebuah pemahaman rohani yang mendalam: sebelum Tuhan memakai seseorang secara luar biasa, sering kali Ia terlebih dahulu melemahkannya. Bukan untuk menghancurkan tanpa tujuan, tetapi untuk memurnikan.
Seperti gelas yang akan dipakai, ia harus dibersihkan terlebih dahulu. Semua kotoran lama harus disingkirkan.
Kadang dalam hidup, kita seperti orang yang sedang tenggelam tetapi masih berusaha keras menyelamatkan diri dengan tenaga sendiri. Selama kita masih kuat melawan dan mengandalkan diri, kita belum sepenuhnya berserah.
Dalam ilustrasi penyelamatan di air, seorang penyelamat kadang menunggu sampai orang yang tenggelam mulai kehabisan tenaga. Jika tidak, orang yang panik itu bisa menyeret penolongnya ikut tenggelam. Saat kekuatannya habis, barulah ia lebih mudah diselamatkan.
Demikian juga dalam perjalanan rohani. Selama kita masih sepenuhnya mengandalkan logika, koneksi, kekuatan pribadi, dan ambisi kita, kita sulit mengalami karya Tuhan yang penuh.
Doa “hancurkan aku” bukan berarti kita meminta penderitaan. Artinya:
Hancurkan kesombonganku.
Hancurkan egoku.
Hancurkan pola pikir lamaku yang tidak sesuai kehendak-Mu.
Hancurkan ketergantunganku pada diri sendiri.
Itu doa yang berbahaya. Tetapi dari kehancuran itulah lahir kerendahan hati, ketulusan, dan ketaatan sejati.
Tuhan Tetap Bekerja
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, satu kebenaran tidak berubah: Tuhan tetap bekerja. Ia tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Kasih setia-Nya tidak berakhir.
Jika hari ini sedang berada dalam masa sulit, mungkin doa yang perlu dinaikkan bukan hanya “Tuhan, keluarkan aku dari masalah ini,” tetapi:
Tambahkan imanku.
Selidiki hatiku.
Hancurkan apa pun dalam diriku yang tidak berkenan kepada-Mu.
Doa-doa seperti ini mungkin terasa menakutkan. Namun justru melalui doa yang berbahaya itulah kita dibentuk menjadi pribadi yang dewasa, teguh, dan berakar dalam Tuhan.
Iman yang kuat tidak lahir dari hidup yang selalu mulus. Hati yang murni tidak lahir dari hidup yang tidak pernah dikoreksi. Ketergantungan sejati kepada Tuhan tidak lahir dari orang yang selalu merasa mampu sendiri.
Mungkin sudah waktunya berhenti bermain aman dalam doa.
Karena di balik doa yang berbahaya, ada kasih Tuhan yang setia membentuk kita—bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menjadikan kita serupa dengan kehendak-Nya.
Komentar
Posting Komentar