Papa dan Mama: Imam Terbaik bagi Keluarga
Setiap keluarga adalah anugerah dari Tuhan. Anak-anak tidak pernah hadir ke dunia secara kebetulan. Mereka lahir melalui kasih dan penetapan Tuhan, dan kemudian dipercayakan kepada orang tua untuk dibimbing, diarahkan, dan dituntun. Artinya, tanggung jawab terbesar dalam membentuk masa depan anak-anak ada di tangan papa dan mama—bukan dunia, bukan keadaan, apalagi lingkungan semata.
Kitab Ayub memberi teladan yang sangat indah tentang hal ini. Ayub dikenal sebagai seorang pria yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Meski ia kaya raya dengan harta melimpah dan memiliki sepuluh anak, fokus utama hidupnya bukan sekadar pada kekayaan atau prestasi, melainkan pada kesalehan dirinya dan keluarganya. Ia tidak hanya mendoakan anak-anaknya, tetapi juga mempersembahkan korban bakaran bagi mereka “kalau-kalau” mereka berbuat dosa di dalam hati. Inilah gambaran seorang ayah yang sungguh berperan sebagai imam dalam rumah tangganya.
Keluarga Adalah Amanat Tuhan
Anak-anak adalah titipan dari Tuhan, bukan milik kita semata. Itulah sebabnya tanggung jawab papa dan mama bukan hanya mencukupi kebutuhan materi atau pendidikan anak, tetapi yang lebih penting adalah menanamkan nilai-nilai kekal: takut akan Tuhan, hidup benar, dan mengasihi sesama.
Sering kali orang tua berpikir bahwa warisan terbesar bagi anak adalah harta, aset, atau pendidikan tinggi. Semua itu penting, tetapi Firman Tuhan menegaskan bahwa apa artinya seorang anak memperoleh segala sesuatu di dunia ini, tetapi kehilangan jiwanya? Maka warisan terbesar yang bisa papa dan mama berikan adalah Injil, iman yang hidup, dan teladan takut akan Tuhan.
Tiga Tugas Imam dalam Keluarga
Dari teladan Ayub, kita belajar bahwa peran orang tua sebagai imam keluarga meliputi tiga hal penting:
-
Meluangkan waktu bersama anak-anak.
Waktu adalah bukti kasih. Anak-anak tidak hanya membutuhkan uang atau fasilitas, tetapi lebih rindu akan kehadiran orang tuanya. Ketika papa dan mama mau mendengar cerita mereka, bermain bersama, atau sekadar makan bersama, itu menanamkan rasa aman dan kasih yang mendalam. -
Menguduskan anak-anak.
Artinya, orang tua menanamkan nilai-nilai firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak cukup hanya mengajarkan teori, tetapi harus dengan teladan hidup. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, melainkan juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. -
Mendoakan mereka secara khusus.
Doa orang tua adalah kekuatan rohani yang melindungi dan membentuk masa depan anak. Bahkan ketika anak-anak belum mengerti, doa papa dan mama menjadi pagar ilahi yang menjaga mereka dari bahaya dan menuntun mereka kepada rencana Tuhan.
Papa dan Mama Adalah Penentu Arah Hidup Anak
Jika orang tua tidak memberikan arah, dunia yang akan berbicara dan membentuk mereka. Dunia menawarkan banyak hal: kesenangan sesaat, nilai-nilai yang bertentangan dengan firman Tuhan, bahkan gaya hidup yang merusak. Anak-anak akan menjadi “makhluk kebetulan” yang dibentuk oleh keadaan bila orang tua tidak mengambil peran sebagai pengajar, teladan, dan imam.
Karena itu, papa dan mama dipanggil untuk aktif menanamkan visi dan nilai. Jangan hanya berkata, “Terserah anak mau jadi apa.” Memang benar, pada akhirnya anak akan memilih jalannya sendiri, tetapi orang tua perlu memberikan arah, memberi masukan, bahkan menunjukkan teladan hidup yang jelas.
Kasih yang Membawa kepada Kristus
Segala sesuatu yang kita kerjakan bagi keluarga harus bermuara pada Kristus. Dialah dasar kebahagiaan sejati. Dunia bisa menawarkan kesuksesan, kekayaan, dan popularitas, tetapi hanya Kristus yang mampu memberikan hidup yang kekal.
Itulah sebabnya kasih sejati dari papa dan mama bukan hanya ditunjukkan dalam pemberian materi, melainkan juga dalam usaha membawa keluarga semakin dekat kepada Tuhan. Tidak mudah memang—kadang bisa menimbulkan konflik, ada rasa ditolak atau tidak dimengerti—tetapi lebih baik dimarahi sesaat daripada kehilangan jiwa mereka untuk selamanya.
Keluarga adalah ladang pelayanan pertama. Papa dan mama adalah imam yang ditetapkan Tuhan untuk menjaga, menuntun, dan mengarahkan anak-anak. Ingatlah, kemuliaan orang tua bukan hanya pada jabatan, kekayaan, atau pencapaian pribadi, tetapi pada bagaimana anak-anak hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Maka, mari kita jalani peran ini dengan setia: meluangkan waktu, menguduskan, dan mendoakan anak-anak kita. Sebab ketika keluarga dibangun di atas dasar Kristus, maka kasih, damai sejahtera, dan berkat-Nya akan nyata turun temurun.
Komentar
Posting Komentar