Mintalah Yang Besar, Jangan Ragu

Banyak orang percaya sering kali ragu untuk meminta sesuatu yang besar kepada Tuhan. Mereka berpikir bahwa lebih baik meminta yang kecil saja supaya tidak terlalu “merepotkan” Allah, atau supaya lebih mudah untuk dijawab. Padahal, Allah kita adalah Allah yang Maha Besar, yang sanggup melakukan perkara yang jauh lebih besar daripada yang kita doakan atau pikirkan.

Firman Tuhan menegaskan, “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7). Bahkan Yesus menegur murid-murid-Nya, “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yohanes 16:24). Artinya, Allah memang menghendaki kita meminta kepada-Nya, bahkan meminta yang besar.

1. Belajar dari Elisa: Iman yang Berani Meminta

Kisah Elisa dalam 2 Raja-Raja 2:9-12 adalah contoh luar biasa. Ketika Elia hendak diangkat ke surga, ia bertanya kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu sebelum aku terangkat meninggalkan engkau.” Tanpa ragu, Elisa menjawab, “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.”

Permintaan Elisa bukanlah hal kecil. Ia tidak meminta setengah, ia tidak meminta sedikit, tetapi ia meminta dua kali lipat dari apa yang dimiliki gurunya. Secara manusia, ini permintaan yang mustahil, karena Elia hanya punya satu bagian. Namun Elisa berani meminta sesuatu yang tampaknya mustahil karena ia percaya Allah sanggup memberikannya.

Elia sendiri mengatakan, “Yang kau minta itu sukar.” Tapi Elisa tidak mengubah permintaannya, tidak menurunkan standarnya, tidak menawar menjadi lebih kecil. Ia tetap teguh, dan pada akhirnya Tuhan menggenapi imannya.

2. Jangan Mengecilkan Allah dengan Doa Kita

Sering kali doa kita terdengar rendah hati, padahal sebenarnya kita sedang meremehkan kuasa Allah. Misalnya kita berkata, “Tuhan, saya minta yang kecil-kecil saja, tidak usah besar-besar.” Kedengarannya baik, tetapi sesungguhnya kita sedang membatasi Allah sesuai dengan pikiran kita yang terbatas.

Bagi Tuhan, besar atau kecil tidak ada bedanya. Mukjizat yang bagi kita tampak luar biasa, bagi Tuhan sama mudahnya dengan perkara kecil. Injak semut atau memindahkan gunung, sama-sama mudah bagi Allah yang Mahakuasa.

Jadi ketika kita meminta sesuatu yang besar, itu bukan berarti kita serakah. Itu justru tanda iman bahwa kita percaya Allah mampu melakukan segala sesuatu. Doa besar bukan doa yang mencobai Allah, tetapi doa yang memuliakan Dia, karena kita menaruh percaya sepenuhnya pada kuasa-Nya.

3. Mintalah dengan Hati yang Benar

Namun penting diingat: meminta yang besar bukan berarti kita meminta dengan hawa nafsu atau ambisi pribadi semata. Elisa tidak meminta kekayaan, popularitas, atau kenyamanan hidup. Ia meminta roh pelayanan, dua kali lipat dari apa yang ada pada Elia, supaya ia sanggup meneruskan tugas besar bagi bangsa Israel.

Permintaan besar yang benar adalah doa yang selaras dengan hati Tuhan. Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Artinya, mintalah hal-hal yang sesuai dengan kehendak-Nya, maka kebutuhan hidup kita pun akan dipenuhi.

Kalau kita tahu doa kita benar, kita tidak perlu takut untuk meminta dengan berani. Entah itu untuk pelayanan, untuk keluarga, untuk pekerjaan, bahkan untuk kebutuhan pribadi sekalipun. Asal hati kita bersih di hadapan Tuhan, kita boleh datang dengan penuh keyakinan.

4. Iman yang Tidak Plin-Plan

Elisa mengajarkan kita untuk tidak berubah-ubah dalam doa. Ketika Elia berkata, “Yang kau minta itu sukar,” Elisa tidak langsung berkata, “Baiklah, kalau begitu cukup setengah saja.” Ia tetap berpegang pada imannya.

Banyak orang berdoa dengan tidak mantap. Hari ini meminta sesuatu, besok berubah pikiran, lalu menurunkan standar doanya. Doa seperti ini kehilangan kuasa, karena tidak didasari iman yang teguh. Firman Tuhan berkata, “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:6).

Doa yang besar membutuhkan iman yang besar. Sekali kita percaya, maka kita harus tetap berpegang sampai Tuhan menjawab, meski kita belum melihat hasilnya secara langsung.

5. Jangan Latah, Percaya dengan Teguh

Ada orang yang berdoa asal-asalan, hanya meniru-niru orang lain, atau hanya “titip doa” di mana-mana, tetapi tidak pernah sungguh percaya. Doa bukanlah formalitas. Doa adalah pernyataan iman.

Ketika kita sungguh-sungguh meminta, kita harus percaya bahwa kita sudah menerimanya. Yesus berkata, “Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24).

Artinya, doa besar harus diiringi dengan keyakinan besar. Jangan hanya berdoa lalu melupakan apa yang kita minta. Pegang janji Tuhan, bertindak dalam iman, dan nantikan dengan sabar.

Saudara yang terkasih, pesan rohani hari ini jelas: Mintalah yang besar, jangan ragu. Jangan kecilkan kuasa Allah hanya karena kita merasa tidak layak, atau karena kita takut doa kita tidak dijawab. Selama hati kita benar, selama yang kita minta sesuai dengan kehendak-Nya, jangan takut meminta perkara besar.

Belajarlah dari Elisa yang berani meminta dua bagian dari roh Elia. Ia tidak sedang serakah, tetapi haus dan lapar akan Allah. Ia tahu bangsa Israel membutuhkan lebih dari yang ia punya, dan hanya Allah yang sanggup memberikannya.

Hari ini, jangan takut untuk datang kepada Bapa di surga dan berkata: “Tuhan, aku percaya Engkau sanggup. Aku meminta perkara besar, karena Engkau Allah yang besar.”

Mintalah yang besar. Jangan ragu. Karena Allah kita sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan dan pikirkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup dalam Waktu Tuhan: Belajar Mengenali Kronos dan Kairos

Hidup Bagi Tuhan: Renungan dari Penderitaan Raja Hizkia

Diet yang Menyenangkan: Rahasia Langsing Tanpa Tersiksa