Tetap Percaya Saat Menunggu Janji Tuhan
Dalam perjalanan hidup, ada saat-saat ketika seseorang merasa Tuhan telah memberikan janji, namun kenyataannya janji itu seolah belum terlihat. Ada doa yang sudah dipanjatkan bertahun-tahun, ada pengorbanan yang sudah dilakukan, tetapi hasilnya belum tampak. Pada momen seperti itulah iman diuji. Kisah Abraham dalam kitab Kejadian memberikan gambaran yang sangat kuat tentang bagaimana seseorang harus tetap percaya kepada Tuhan bahkan ketika harus menunggu lama untuk melihat janji-Nya digenapi.
Panggilan Tuhan yang Mengubah Hidup
Kisah ini dimulai ketika Tuhan memanggil Abram untuk meninggalkan negeri, keluarga, dan segala sesuatu yang ia kenal, untuk pergi ke tempat yang akan Tuhan tunjukkan. Tuhan berjanji akan menjadikannya bangsa yang besar dan melalui dirinya semua bangsa di bumi akan diberkati.
Bayangkan betapa besar tuntutan itu. Abram diminta meninggalkan zona nyaman tanpa mengetahui secara pasti ke mana ia akan pergi. Tidak ada peta, tidak ada jaminan manusiawi, hanya satu hal: kepercayaan kepada suara Tuhan.
Namun Abram memilih untuk taat. Ia meninggalkan masa lalunya, meninggalkan keamanan yang ia miliki, dan berjalan mengikuti panggilan Tuhan.
Ketaatan seperti ini bukanlah ketaatan yang setengah hati. Ini adalah bentuk iman yang radikal. Abram percaya bahwa ketika Tuhan memanggil seseorang, Tuhan juga akan memimpin langkah demi langkah.
Perjalanan Iman yang Tidak Selalu Mudah
Setelah mengikuti panggilan Tuhan, hidup Abram tidak langsung menjadi mudah. Ia menghadapi banyak tantangan. Salah satu hal penting yang terlihat dalam hidupnya adalah kebiasaannya membangun mezbah setiap kali Tuhan menuntunnya ke tempat baru.
Mezbah adalah simbol hubungan dengan Tuhan. Di sanalah Abram berdoa, menyembah, dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.
Ini mengajarkan bahwa iman tidak hanya ditunjukkan melalui keputusan besar sekali seumur hidup. Iman dibangun melalui kebiasaan sehari-hari—melalui doa, penyembahan, dan kesetiaan dalam perjalanan panjang bersama Tuhan.
Memilih Jalan Damai
Suatu saat, terjadi konflik antara para gembala Abram dan para gembala Lot, keponakannya. Padahal keduanya adalah keluarga.
Abram sebenarnya memiliki hak untuk memilih tanah yang terbaik, tetapi ia memilih untuk mengalah. Ia memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih terlebih dahulu.
Lot melihat daerah yang subur dan memilih wilayah yang dekat dengan Sodom. Dari sudut pandang manusia, pilihannya terlihat paling menguntungkan.
Sebaliknya, Abram mengambil wilayah yang tampaknya kurang menjanjikan.
Namun di sinilah prinsip rohani terlihat jelas: pilihan yang terlihat baik secara lahiriah belum tentu menjadi berkat dalam jangka panjang.
Sementara Lot akhirnya terjerat dalam kehidupan Sodom, Abram tetap berjalan bersama Tuhan. Ketika Abram berada di padang gurun, Tuhan justru mengangkat matanya untuk melihat bintang-bintang di langit dan berjanji bahwa keturunannya akan sebanyak itu.
Sering kali Tuhan memberikan janji terbesar justru ketika kita berada di tempat yang paling tidak menjanjikan secara manusia.
Berjuang untuk Keluarga
Ketika Lot akhirnya ditawan oleh musuh, Abram tidak tinggal diam. Ia mengumpulkan 318 orang yang terlatih dan pergi berperang untuk menyelamatkan keluarganya.
Ini adalah salah satu pelajaran penting: keluarga layak untuk diperjuangkan.
Banyak orang mudah menyerah ketika hubungan keluarga mengalami masalah. Tetapi kisah ini menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki iman akan berjuang untuk keluarganya—berjuang dalam doa, dalam kasih, dan dalam pengorbanan.
Ada kalanya orang yang kita kasihi tersesat, membuat kesalahan, atau jatuh dalam masalah. Namun iman mengajarkan kita untuk tidak menyerah begitu saja.
Menolak Kekayaan yang Tidak Benar
Setelah memenangkan pertempuran, raja Sodom menawarkan kekayaan kepada Abram. Secara manusia, tawaran itu sangat menggiurkan.
Namun Abram menolaknya.
Ia berkata bahwa ia tidak ingin siapa pun mengatakan bahwa kekayaan yang ia miliki berasal dari Sodom. Ia ingin semua orang tahu bahwa Tuhanlah sumber berkatnya.
Sikap ini menunjukkan integritas yang luar biasa.
Abram mengerti bahwa tidak semua kesempatan harus diambil. Ada hal-hal yang terlihat menguntungkan tetapi sebenarnya dapat merusak tujuan Tuhan dalam hidup seseorang.
Iman sejati sering kali terlihat dari kemampuan seseorang untuk berkata “tidak” terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tuhan Adalah Upah yang Terbesar
Setelah semua peristiwa itu, Tuhan berbicara kepada Abram dan berkata bahwa Ia adalah perisai dan upah yang sangat besar bagi Abram.
Ini adalah pengingat penting: berkat terbesar bukanlah kekayaan, keberhasilan, atau pencapaian duniawi. Berkat terbesar adalah Tuhan sendiri.
Ketika seseorang memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, ia memiliki perlindungan, arah, dan pengharapan yang melampaui segala hal di dunia ini.
Saat Menunggu Janji Tuhan
Namun meskipun telah menerima janji Tuhan, Abram masih menghadapi pergumulan. Ia masih belum memiliki anak, padahal Tuhan telah berjanji bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar.
Di sinilah muncul pertanyaan yang sangat manusiawi:
“Bagaimana janji itu akan terjadi?”
Pertanyaan ini bukanlah tanda ketidakpercayaan sepenuhnya. Kadang-kadang iman dan keraguan dapat muncul bersamaan dalam hati manusia.
Ada hari-hari ketika seseorang penuh keyakinan, tetapi ada juga hari-hari ketika ia bertanya-tanya apakah janji itu benar-benar akan terjadi.
Tuhan memahami pergumulan tersebut.
Mengusir “Burung Nazar” yang Datang
Dalam suatu peristiwa simbolis, Abram mempersembahkan korban kepada Tuhan dan menunggu Tuhan meneguhkan janji-Nya. Namun sebelum Tuhan menyatakan diri-Nya, burung-burung pemakan bangkai datang mendekati korban itu.
Abram mengusir burung-burung itu.
Peristiwa ini mengandung makna yang sangat dalam. Dalam kehidupan rohani, selalu ada “burung-burung” yang mencoba merusak iman—keraguan, ketakutan, keputusasaan, dan pikiran negatif.
Ketika seseorang sedang menunggu janji Tuhan, justru saat itulah keraguan sering datang paling kuat.
Ada suara yang berkata:
“Doamu sia-sia.”
“Janji itu tidak akan terjadi.”
“Sudah terlambat.”
Namun iman menolak suara-suara tersebut.
Seperti Abram mengusir burung-burung itu, orang percaya juga harus menjaga hatinya agar tidak dikuasai oleh keraguan dan ketakutan.
Tuhan Setia Menepati Janji
Pada akhirnya, Tuhan meneguhkan janji-Nya kepada Abram. Dari keturunannya lahir Ishak, kemudian Yakub, dan akhirnya bangsa Israel.
Janji yang tampaknya mustahil itu benar-benar terjadi.
Hal ini mengajarkan satu kebenaran besar: Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya.
Mungkin janji itu tidak digenapi secepat yang kita harapkan. Mungkin perjalanan menuju penggenapan itu penuh dengan ujian. Namun Tuhan selalu setia.
Kisah Abraham mengingatkan bahwa iman bukan hanya tentang menerima janji Tuhan, tetapi juga tentang tetap percaya selama masa penantian.
Ada saat ketika kita harus meninggalkan masa lalu untuk mengikuti panggilan Tuhan.
Ada saat ketika kita harus memilih damai daripada keuntungan.
Ada saat ketika kita harus berjuang untuk keluarga.
Ada saat ketika kita harus menolak tawaran dunia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Dan ada saat ketika kita harus mengusir keraguan sambil menunggu janji Tuhan digenapi.
Pada akhirnya, iman bukanlah tentang melihat terlebih dahulu baru percaya. Iman adalah percaya terlebih dahulu, bahkan ketika kita masih menunggu.
Karena Tuhan yang memberi janji adalah Tuhan yang sama yang akan menggenapinya.
Komentar
Posting Komentar