Jangan Kehilangan Tuhan
Ada kehilangan-kehilangan yang masih dapat dicari kembali. Uang bisa kembali. Kesempatan bisa muncul lagi. Bahkan ketika relasi manusia retak, masih ada ruang untuk memulai dari awal. Tetapi ada satu kehilangan yang jauh lebih dalam, jauh lebih serius, dan jauh lebih menakutkan daripada semuanya: kehilangan Tuhan dari hidup kita.
Bukan kehilangan pengetahuan tentang Tuhan. Bukan kehilangan kegiatan-kegiatan rohani. Tetapi kehilangan kesadaran akan hadirat-Nya, kehilangan kepekaan suara-Nya, kehilangan damai sejahtera yang biasa kita kenal sebagai tanda bahwa Dia menyertai langkah kita. Kehilangan-Nya—itulah yang tidak boleh terjadi.
Ketika Suara Roh Mulai Redup
Ada masa ketika manusia masih bisa merasakan firasat halus yang menegur dan mengarahkan. Hati berdebar tanpa sebab, seakan Roh Tuhan berbisik, “Jangan lakukan itu.” Atau ada damai seakan berkata, “Ini jalan yang benar.”
Tetapi suara itu tidak hilang dalam sekejap. Ia redup pelan-pelan, bukan karena Tuhan menjauh, tetapi karena hati manusia yang semakin menutup.
Suara nurani pelan-pelan mati ketika:
-
kita mengabaikan teguran kecil,
-
kita terus menunda ketaatan,
-
kita kompromi sedikit demi sedikit,
-
kita membiarkan diri berjalan tanpa arah.
Kehilangan Tuhan bukan terjadi dalam satu malam. Itu adalah serangkaian keputusan kecil yang membuat hati menjadi keras.
Ketika Badai Datang Tanpa Penyertaan
Ada kisah tentang sebuah bangsa yang melakukan kesalahan fatal: mereka begitu yakin bahwa keberadaan “simbol” Tuhan berarti Tuhan pasti bersama mereka. Mereka membawa benda suci itu ke medan perang, seakan benda itu bisa memaksa Tuhan turun tangan. Padahal hidup mereka sudah lama tidak berjalan bersama-Nya.
Mereka kalah. Banyak yang mati. Dan lebih berat daripada kekalahan fisik itu adalah ketika mereka mendengar bahwa tabut Tuhan—lambang hadirat-Nya—dirampas oleh musuh.
Benda itu hanyalah kayu dan emas. Tetapi kehilangan hadirat Tuhan adalah bencana sejati.
Dalam hidup kita pun demikian. Kekalahan bukanlah hal terburuk. Kehilangan harta bukanlah malapetaka terbesar. Kehilangan kesehatan pun, betapa menyakitkan, bukanlah yang paling menakutkan.
Yang paling mengerikan adalah jika kita berjalan melalui badai tanpa Tuhan.
Tanda-Tanda Kita Mulai Kehilangan Tuhan
Bukan berarti Tuhan meninggalkan kita begitu saja. Tetapi ada tanda-tanda rohani yang seharusnya membuat kita waspada:
-
Doa terasa kosong, seperti kata-kata yang hanya memantul di dinding.
-
Firman tidak lagi berbicara, meski dibaca berulang kali.
-
Kehilangan damai, bahkan dalam hal kecil sekalipun.
-
Dosa kecil terasa "tidak apa-apa", padahal dulu kita tersentuh hanya oleh pikiran itu.
-
Hati mulai tawar, sulit tersentuh, sulit diingatkan.
Jika hati tidak segera dilembutkan, lama-lama kita tidak lagi sadar bahwa suara-Nya telah lama redup.
Saat Tuhan Membiarkan Kita Merasakan Jarak
Terkadang Tuhan tidak menegur lewat malapetaka besar. Teguran-Nya bisa hadir dalam bentuk yang paling sunyi: kehilangan rasa persekutuan dengan-Nya.
Ada orang-orang yang pernah mengalami momen ketika doa tidak menembus apa-apa. Ketika hati terasa mati. Ketika ayat-ayat firman yang dulu begitu hidup kini hanya menjadi teks. Ketika mereka berlutut, tetapi tidak menemukan-Nya.
Dan saat itu terjadi, barulah mereka sadar:
Satu-satunya yang benar-benar berharga dalam hidup adalah hadirat Tuhan.
Tanpa Dia, hidup kosong. Tanpa Dia, sukses tidak berarti. Tanpa Dia, bahkan hal-hal indah pun terasa hampa.
Saat seseorang pernah merasakan ditinggalkan oleh manusia, itu menyakitkan. Tetapi saat seseorang pernah merasa Tuhan membelakangi dirinya, itu menghancurkan.
Namun Tuhan bukanlah pribadi yang kejam. Jarak yang Ia izinkan terjadi bukan untuk menghukum, tetapi untuk membangunkan hati yang mulai tumpul.
Pertobatan yang Membuka Langit
Ketika hati akhirnya runtuh dalam kerendahan dan tangisan pertobatan, ketika seseorang berseru:
“Tuhan, jangan pergi. Aku tak mau hidup tanpa-Mu.”
maka rahmat Tuhan turun kembali seperti hujan pertama setelah musim kemarau.
Ia membuka kembali firman-Nya.
Ia mengembalikan damai-Nya.
Ia mengembalikan kelembutan hati.
Ia menoleh kembali.
Dan satu tatapan-Nya saja cukup untuk membangkitkan jiwa yang hampir mati.
Tuhan selalu kembali kepada mereka yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Ia tidak menutup pintu bagi jiwa yang hancur.
Hadirat-Nya Lebih Berharga dari Segala Sesuatu
Apa yang paling kita jaga dalam hidup?
Keluarga? Pekerjaan? Reputasi? Kekayaan? Rencana masa depan?
Semuanya berharga. Tetapi tidak ada yang lebih berharga daripada hadirat Tuhan.
Daud pun tahu hal ini. Ketika ia jatuh dalam dosa, ia tidak berkata:
-
“Jangan ambil kerajaanku,”
-
“Jangan ambil kekuasaanku,”
-
“Jangan ambil kemuliaanku.”
Ia hanya menangis dan berkata:
“Janganlah ambil Roh-Mu dari padaku.” (Mazmur 51)
Karena ia tahu—tanpa hadirat Tuhan, hidupnya sudah seperti mati.
Jangan Kehilangan Tuhan
Jika saat ini hidupmu terasa hambar…
Jika doa terasa berat…
Jika firman tidak lagi menggerakkan hatimu…
Jika nuranimu semakin tumpul…
Jika engkau berjalan tetapi tidak yakin Tuhan bersama…
maka berhentilah sebentar.
Jangan lanjutkan langkah tanpa Dia.
Jangan paksakan keputusan jika hati tak damai.
Jangan biarkan jarak semakin lebar.
Kembalilah.
Cari Tuhan selagi Ia dekat.
Biarkan hati dilunakkan kembali.
Menangislah jika perlu.
Suara-Nya akan kembali.
Damai-Nya akan kembali.
Pelukan-Nya akan kembali.
Ada banyak hal dalam hidup yang tidak kita bisa kendalikan.
Tetapi satu hal yang pasti kita bisa jaga:
jangan sampai kita kehilangan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar