EBENEZER: Sampai di Sini Tuhan Telah Menolong Kita
Ada momen-momen dalam hidup ketika kita berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan akhirnya berkata dengan penuh kesadaran: “Kalau bukan Tuhan, aku tidak akan sampai sejauh ini.” Momen di mana kita menyadari bahwa segala badai yang pernah mengancam untuk menghancurkan kita justru menjadi penegas bahwa ada tangan yang lebih kuat, lebih setia, dan lebih penuh kasih yang terus menopang perjalanan kita.
Inilah yang disebut dengan Ebenezer—sebuah pernyataan iman yang berbunyi: “Sampai di sini Tuhan telah menolong kita.”
Bukan karena kita kuat. Bukan karena kita tahu jalan. Tetapi karena Ia menuntun langkah kita dengan kesetiaan yang tidak pernah berubah.
Membangun “Batu Peringatan” dari Perjalanan Hidup
Di dalam kehidupan kita, ada masa-masa krisis, kekalutan, dan kebingungan. Ada saat-saat ketika kita berdiri di persimpangan tanpa tahu harus melangkah ke mana. Ada malam-malam ketika kita menangis tanpa suara, hanya berharap ada keajaiban kecil yang menguatkan.
Namun ketika kita menoleh ke belakang, kita menemukan jejak-jejak pertolongan yang tidak terbantahkan:
-
Ketika masalah datang lebih besar dari kemampuan kita—tetapi kita tetap selamat.
-
Ketika doa terasa hampa—tetapi kekuatan tetap mengalir entah dari mana.
-
Ketika kita merasa sendirian—tetapi ada damai yang memeluk tanpa kata.
-
Ketika pintu tertutup—tetapi jendela lain terbuka pada waktu yang tepat.
Setiap pengalaman itu adalah “batu” yang membentuk tugu peringatan—bukan untuk disembah, tetapi untuk diingat.
Tugu itu berdiri dalam batin kita sebagai saksi bahwa:
-
Tuhan tidak pernah gagal.
-
Tuhan tidak pernah meninggalkan.
-
Tuhan tidak pernah salah waktu.
-
Tuhan tidak pernah kehabisan cara.
Dan seperti bangsa Israel yang menumpuk batu setelah menyeberangi sungai Yordan sebagai penanda mukjizat, kita pun diundang untuk menegakkan memorial rohani di dalam hati—bukti diam dari kesetiaan Tuhan di setiap musim hidup kita.
Pertolongan yang Datang Tepat Pada Saat Kita Tidak Mampu Lagi
Ada momen yang diceritakan dalam renungan tersebut: seseorang yang datang dengan tangan kosong, tanpa kekuatan, tanpa inspirasi, tanpa kata-kata. Dan justru di titik itulah ia menyadari: “Tuhan menolongku lagi.”
Bukankah itu juga terjadi pada kita?
-
Saat tenaga habis, tetapi kita tetap mampu berjalan.
-
Saat pikiran buntu, tetapi keputusan yang tepat tetap muncul.
-
Saat perasaan runtuh, tetapi hati tetap bertahan.
Ada kekuatan di luar diri kita yang sedang bekerja.
Itu sebabnya kita sampai kepada pengakuan sederhana namun penuh kuasa:
“Jika Tuhan belum pernah gagal, Ia tidak akan mulai gagal hari ini.”
Kita tidak perlu takut tentang besok atau minggu depan. Yang penting adalah hari ini, karena di sinilah pertolongan-Nya nyata. Dan seperti yang tertulis dalam renungan, “Jika Ia tidak ingin merusak catatan sempurna-Nya, maka Ia pasti akan menolongku lagi.”
Jika Dinding Rumah Kita Bisa Berbicara…
Bayangkan jika dinding rumah kita bisa bersaksi.
Mereka telah melihat:
-
Malam-malam ketika kita berjalan mondar-mandir dengan hati gelisah.
-
Air mata yang tidak terlihat siapa pun.
-
Doa samar yang hanya berupa bisikan penuh ketakutan.
-
Kekhawatiran akan anak-anak yang sedang tersesat.
-
Rasa putus asa yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.
Dan meskipun semua itu terjadi, kita tetap berdiri hari ini.
Mengapa?
Karena ada tangan yang tak terlihat yang memelihara, menjaga, dan melindungi kehidupan kita dari hal-hal yang seharusnya merenggut masa depan.
Ada banyak dari kita yang seharusnya tidak lagi hidup—karena kecelakaan, kebiasaan buruk, keputusan keliru, pergaulan berbahaya, atau masa lalu yang kelam. Tetapi kita selamat.
Bukan karena keberuntungan.
Bukan karena kebetulan.
Tetapi karena Tuhan belum selesai dengan hidup kita.
Dipelihara Bukan Karena Layak, Tetapi Karena Dikasihi
Kalimat kuat dari renungan tersebut menggema:
“Tuhan menugaskan malaikat mengelilingimu seperti cincin api, menjaga siang dan malam.”
Kita bukan dipelihara karena kita sempurna, melainkan karena kita dicintai.
Bukan karena kita selalu benar, tetapi karena Tuhan melihat masa depan yang belum kita lihat.
Tidak ada:
-
senjata,
-
rencana jahat,
-
ancaman,
-
atau masa lalu
yang dapat membatalkan kehendak Tuhan atas hidup seseorang yang Ia lindungi.
Ebenezer: Sebuah Pengakuan dan Pujian
Ketika kita berkata “Ebenezer,” itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah deklarasi iman:
-
Aku tidak berjalan sendiri.
-
Aku tidak selamat karena kekuatanku.
-
Aku tidak beruntung—aku dijaga.
-
Aku tidak kebetulan ada di sini—Tuhanlah yang memelihara.
Dan mungkin inilah saatnya kita berhenti sejenak, dan mengucapkan syukur:
“Sampai di sini, Tuhan telah menolong aku.”
Ucapkan itu dengan penuh kesadaran.
Biarkan kalimat itu menjadi doa, pujian, dan kekuatan baru untuk menapaki langkah berikutnya.
Jika Tuhan Telah Membawa Kita Sejauh Ini…
...maka Ia tidak akan meninggalkan kita di tengah jalan.
Ia yang membuka laut,
Ia yang membelah sungai,
Ia yang menenangkan badai,
Ia yang melindungi dari musuh,
Ia yang memberi manna setiap hari—
Dialah yang sama yang akan menuntun kita besok, lusa, dan sampai akhir hidup.
Maka hari ini, mari kita bangun memorial rohani dalam hati:
EBENEZER — sampai di sini Tuhan telah menolong kita.
Dan karena Ia telah menolong kita sampai di sini,
Ia akan menolong kita sampai rumah.
Komentar
Posting Komentar