Apa yang Ada di Tanganmu?
Dalam perjalanan hidup, sering kali kita diperhadapkan pada tugas, tantangan, atau beban yang terasa jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Kita merasa kecil, terbatas, bahkan tidak layak. Namun, justru dalam kondisi seperti inilah kita bisa mengalami kebesaran dan kuasa Tuhan.
Renungan ini berangkat dari kisah Musa dalam kitab Keluaran pasal 4. Ketika Musa dipanggil untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, ia dipenuhi rasa takut dan keraguan. Musa bertanya, “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku?” Pertanyaan itu begitu manusiawi. Bukankah kita pun sering berkata dalam hati: “Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau orang lain menolak saya? Bagaimana kalau semua usaha ini sia-sia?”
Namun, Tuhan tidak menjawab ketakutan Musa dengan penjelasan panjang. Tuhan hanya berkata: “Apa itu di tanganmu?” Musa menjawab, “Tongkat.” Sesuatu yang sederhana, biasa, bahkan tampak tidak berarti. Tetapi ketika tongkat itu diserahkan kepada Tuhan, ia menjadi alat yang luar biasa—mengalami perubahan, dipakai untuk mujizat, dan menjadi tanda bahwa kuasa Allah nyata.
Jangan Hidup dengan “Bagaimana Jika”
Keraguan sering muncul dalam bentuk pertanyaan “bagaimana jika”. Bagaimana jika gagal? Bagaimana jika ditolak? Bagaimana jika hasilnya tidak seperti harapan? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita ragu melangkah, padahal iman tidak pernah berjalan dengan kepastian penuh. Iman berarti percaya sekalipun belum melihat. Bukan sekadar berpikir positif, melainkan memegang janji Tuhan yang seringkali melampaui logika manusia.
Ketika kita hidup dengan iman, kita belajar untuk mengganti pertanyaan “bagaimana jika” dengan sikap, “Baiklah Tuhan, aku percaya dan aku melangkah.” Karena justru dalam ketaatan, kuasa Allah dinyatakan.
Apa yang Ada di Tanganmu?
Pertanyaan Tuhan kepada Musa juga berlaku bagi kita hari ini: “Apa yang ada di tanganmu?”
Mungkin kita berpikir kita tidak punya apa-apa. Tetapi sebenarnya, selalu ada sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita—waktu, talenta, keterampilan, pengalaman hidup, bahkan kelemahan sekalipun bisa dipakai-Nya. Masalahnya bukan pada besar kecilnya apa yang kita miliki, melainkan pada apakah kita bersedia menyerahkannya kepada Tuhan.
Seorang janda di zaman nabi Elisa pernah berkata bahwa ia tidak memiliki apa-apa selain sedikit minyak di rumahnya. Tetapi justru dari minyak yang sedikit itulah, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Sama halnya dengan seorang pengemis di gerbang indah, yang berharap menerima uang dari Petrus. Tetapi Petrus berkata, “Emas dan perak tidak kupunya, tetapi apa yang kupunya kuberikan kepadamu: dalam nama Yesus Kristus, bangkit dan berjalanlah.” Hasilnya jauh melebihi yang ia harapkan.
Artinya, Tuhan sering memakai yang kecil, sederhana, dan dianggap remeh oleh dunia untuk menunjukkan kebesaran-Nya.
Rahasia Kuasa: Rela Melepaskan
Ada satu prinsip penting dalam kisah Musa. Tongkat itu tetaplah tongkat biasa sampai Musa melemparkannya ke tanah. Barulah ketika ia dilepaskan, kuasa Allah bekerja. Demikian pula dalam hidup kita: apapun yang kita genggam erat, kita pegang dengan takut kehilangan, tidak akan pernah bertumbuh. Tetapi ketika kita rela menyerahkannya kepada Tuhan, maka yang kecil dapat menjadi besar, yang sederhana dapat menjadi luar biasa.
Ini berlaku dalam banyak hal—dalam keuangan, dalam pelayanan, dalam hubungan, bahkan dalam mimpi kita. Tuhan dapat memakainya, tetapi hanya jika kita rela mempercayakan kendali itu kepada-Nya.
Kembali pada Kesederhanaan dan Kerendahan Hati
Ketika Tuhan memakai tongkat Musa untuk mengalahkan Firaun dan membelah Laut Teberau, pada akhirnya tongkat itu tetaplah tongkat. Kuasa bukan berasal dari benda itu, melainkan dari Allah yang bekerja melalui benda sederhana tersebut. Inilah yang harus kita ingat: sehebat apapun kita dipakai Tuhan, jangan lupa untuk kembali kepada kesederhanaan dan kerendahan hati.
Daud, misalnya, setelah dipanggil ke istana untuk melayani Saul dengan permainan kecapinya, tetap kembali ke rumah untuk menggembalakan domba-domba ayahnya. Kerendahan hati inilah yang membuatnya terus ditinggikan Tuhan.
Belajar dari Proses
Proses bersama Tuhan seringkali membuat kita terkejut. Musa takut ketika tongkatnya berubah menjadi ular. Tetapi Tuhan tidak membiarkan ketakutan itu melumpuhkannya. Tuhan mengajar Musa untuk berani mengulurkan tangan dan memegang ekor ular itu, sehingga kembali menjadi tongkat. Dari sini kita belajar bahwa dalam setiap langkah iman, Tuhan membentuk kita—dari takut menjadi percaya, dari ragu menjadi taat.
Iman bukan hanya sekadar believe (percaya secara pikiran), tetapi juga trust (percaya dengan tindakan). Percaya artinya tahu Tuhan sanggup. Trust artinya berani melangkah, menyerahkan kendali, dan membiarkan Tuhan bekerja sesuai kehendak-Nya.
Saatnya Menyerahkan
Hari ini, mungkin kita merasa tidak punya apa-apa. Mungkin kita merasa lemah, gagal, tidak layak, atau bahkan tidak memiliki sesuatu yang bisa dipersembahkan. Tetapi pertanyaan Tuhan tetap sama: “Apa yang ada di tanganmu?”
Sekecil apapun, serahkanlah kepada Tuhan. Biarkan Dia mengubah yang biasa menjadi luar biasa, yang sedikit menjadi berlimpah, yang sederhana menjadi sarana kemuliaan-Nya.
Karena bersama Tuhan, yang kecil bisa menjadi besar. Yang tidak berarti bisa dipakai untuk karya yang mulia. Dan hidup kita yang sederhana, ketika diserahkan sepenuhnya kepada-Nya, akan menjadi alat yang dipakai untuk tujuan kekal.
Komentar
Posting Komentar