Wanita Lebay

Shalom, saudariku yang terkasih. Betapa luar biasa bisa kembali bersama dalam kasih Tuhan dan merenungkan kebenaran firman-Nya. Hari ini, kita akan membahas sebuah topik yang cukup menarik sekaligus penting: mimpi buruknya seorang suami.

Sebelumnya, kita telah membahas dua karakter wanita yang bisa menjadi mimpi buruk bagi suaminya. Yang pertama adalah wanita pemarah. Alkitab bahkan berkata bahwa lebih baik tinggal di padang gurun yang panas, kering, dan tidak nyaman, daripada tinggal serumah dengan wanita yang suka marah. Yang kedua adalah wanita pencemburu. Cemburu yang berlebihan membuat suami tidak bisa bekerja dengan tenang, tidak bahagia, bahkan merasa malu dengan sikap istrinya.

Hari ini, kita akan melihat satu lagi karakter wanita yang bisa menjadi mimpi buruk bagi suaminya, yaitu wanita yang lebay—terlalu sensitif, mudah tersinggung, dan selalu merasa kasihan terhadap dirinya sendiri.

Hana: Sosok yang Terluka

Dalam 1 Samuel 1:7-8, kita menemukan kisah Hana, seorang wanita yang mencintai Tuhan dan rajin beribadah. Namun, ia mengalami tekanan dari madunya, Penina, yang sering menyakiti hatinya karena Hana belum memiliki anak. Akibatnya, Hana menjadi wanita yang larut dalam kesedihan, menangis terus-menerus, dan tidak mau makan.

“Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hatinya sehingga ia menangis dan tidak mau makan. Lalu Elkana, suaminya, berkata: ‘Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?’” (1 Samuel 1:7-8)

Elkana sangat mengasihi Hana. Ia bahkan memberikan bagian yang lebih kepadanya. Namun, karena Hana terus berada dalam kondisi emosional yang lemah dan sensitif, cinta itu perlahan menjadi hambar. Lama kelamaan, Elkana memberikan bagian yang sama antara Hana dan Penina dengan anak-anaknya. Bukan karena ia tidak lagi mencintai Hana, tetapi karena sikap Hana sendiri yang terlalu larut dalam kesedihan dan ketersinggungan.

Jangan Jadi Kristal Rapuh

Ada wanita yang berkata dengan bangga, “Saya ini orangnya sensitif.” Tapi sesungguhnya, terlalu sensitif bukanlah suatu kebanggaan. Wanita yang seperti kristal—meskipun tampak berharga—akan kehilangan nilai jika mudah retak. Dalam kehidupan rumah tangga, yang dibutuhkan adalah istri yang kuat, yang tidak mudah hancur oleh gosip, komentar negatif, atau tekanan hidup.

Dalam kehidupan, akan selalu ada sosok “Penina”—mereka yang mengusik, membandingkan, mencemooh, atau bahkan memfitnah. Kita tidak bisa menutup telinga terhadap suara-suara itu. Namun yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita meresponsnya.

Apakah kita akan lebay dan tersinggung?
Apakah kita memilih menangis dan menyendiri?
Atau kita memilih untuk bangkit dan meneguhkan hati?

Belajar dari Perempuan Kanaan

Dalam Injil, ada seorang perempuan Kanaan yang datang kepada Yesus untuk meminta pertolongan bagi anaknya. Ia tidak disukai, bahkan diabaikan. Namun perempuan ini tidak tersinggung, tidak menyerah. Ia tetap memohon dengan kerendahan hati sampai akhirnya Yesus menjawab doanya.

Wanita yang hebat bukanlah wanita tanpa masalah, melainkan wanita yang tidak menyerah meski dihadapkan dengan masalah.

Bangkit dan Berubahlah

Kembali kepada Hana, kita belajar bahwa Tuhan tidak segera memberikan anak kepadanya saat ia masih larut dalam kesedihan. Tapi ketika ia bangkit dan membawa doanya dengan iman, berjanji kepada Tuhan bahwa anak yang diberikan akan dipersembahkan kembali kepada-Nya, maka Tuhan membuka rahimnya. Samuel lahir dari hati seorang wanita yang telah mengalami pemulihan.

Demikian juga kita. Jika kita ingin menjadi mimpi indah bagi suami, bukan mimpi buruk, maka kita harus belajar untuk tidak terlalu dikendalikan oleh perasaan. Jangan sampai perasaan kita lebih besar daripada iman kita.

Suami tidak mencari istri yang sempurna. Mereka membutuhkan istri yang tangguh, yang mampu bertahan dalam badai, yang tetap tenang meski diterpa tekanan hidup. Jadilah wanita yang tidak gampang lebay, tidak mudah tersinggung, dan tidak cepat patah hati. Jadilah wanita yang menjadi penolong sejati, yang membawa damai, keteguhan, dan sukacita dalam keluarga.

Tuhan Yesus yang baik, kami bersyukur untuk kebenaran firman-Mu hari ini. Ajari kami, para wanita, untuk tidak menjadi pribadi yang terlalu sensitif dan lebay. Bentuk kami menjadi wanita yang kuat, yang tidak mudah menyerah, dan yang tetap berpegang pada iman di tengah tekanan hidup. Kami rindu menjadi mimpi indah bagi suami kami dan menjadi wanita yang Engkau percayakan untuk membawa terang dalam keluarga. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.



Sumber : 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup dalam Waktu Tuhan: Belajar Mengenali Kronos dan Kairos

Hidup Bagi Tuhan: Renungan dari Penderitaan Raja Hizkia

Diet yang Menyenangkan: Rahasia Langsing Tanpa Tersiksa